Malang, Swa News – Sebenarnya Warga Lowokwaru sangat antusias dengan kegiatan Pasar Murah yang dilaksanakan Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang di Kantor Kecamatan Lowokwaru pada (9/3/2026) kemarin.

Saking antusiasnya, menurut pengakuan salah satu Warga Lowokwaru, mereka sudah datang ke lokasi sejak pukul 05.00 pagi, setelah selesai salat subuh. Dari pantauan di lokasi, mulai pukul 06.00 pagi sudah terlihat antrean masyarakat yang mengular.
Namun sayangnya, pihak penyelenggara dinilai kurang siap mengantisipasi membludaknya warga Lowokwaru yang ingin menebus paket sembako murah. Apalagi, menurut pengakuan warga, mereka tidak mengetahui mekanisme tebus murah tersebut. Kebanyakan dari mereka hanya mendapatkan informasi dari kerabat dan tetangga.
Program Mudik Gratis 2026 Pemerintah Kota Malang Tak Masuk RAPBD, Anggota DPRD Tetap Apresiasi
“Saya dapat informasi dari tetangga katanya ada kegiatan pasar murah. Saya pikir ada pembagian bomor antrean, ternyata setelah sampai di sini Pakainya KTP. Kalau satu keluarga 6 orang ya langsung habis,” ungkap Pak Ri salah seorang warga yang ikut mengantre sejak pukul 05.00 WIB.

Tidak hanya faktor informasi yang terbatas, warga juga kecewa dengan sistem pengendalian antrean. Banyak warga yang sudah lanjut usia merasa lelah menghadapi berjubelnya masyarakat yang ikut mengantre, khususnya yang berada di luar pagar kantor kecamatan.
Warga Lowokwaru Kecewa pada Penyelenggaraan Pasar Murah
“Saya sempat bertanya ke petugas Wartib dari Diskopindag, ‘Pak, kenapa tidak mengatur antrean yang di luar pagar kecamatan?’ Jawabnya, ‘Kami menertibkan yang di pasar.’ Kemudian saya bilang lagi, ‘Ini kan juga pasar tapi dadakan, harusnya juga diatur biar tidak chaos.’ Karena antrean di luar pagar benar-benar crowded,” keluh salah seorang pengunjung yang tak mau disebutkan namanya kepada Swa News.
Karena tidak ada pengawalan dan pengendalian dari petugas, terlihat ada beberapa orang yang baru datang langsung menyerobot antrean. Akibatnya, banyak lansia yang tidak mampu ikut berdesak-desakan dan terus tertinggal di belakang karena diserobot.
Warga pun berharap kejadian tersebut bisa menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan serupa yang melibatkan banyak masyarakat, sehingga ke depan dapat diantisipasi dengan pelayanan yang lebih baik.
“Padahal kegiatan seperti ini sering dilakukan kok memprihatinkan ya. Mungkin ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan yang selanjutnya,” ujar Joko salah seorang warga yang ikut mengantre. (MM)









