Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News — Jajaran petinggi Plastic Bank tingkat global menyambangi Universitas Ma Chung, Selasa (22/9/2026). Kunjungan delegasi lintas negara ini dilakukan untuk meninjau langsung efektivitas penerapan program kerja sama antara perguruan tinggi tersebut dengan PT Plastic Bank Indonesia yang telah berjalan sejak awal tahun.

Tim delegasi yang hadir merupakan representasi dari berbagai negara dan institusi dunia yang tergabung dalam ekosistem ekologi Plastic Bank. Momentum pertemuan ini dimanfaatkan sebagai ajang evaluasi capaian sekaligus perumusan strategi untuk memperluas dampak program di masa mendatang.
Sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 26 Februari 2026, kolaborasi ini telah melahirkan berbagai inisiatif konkret di lingkungan kampus. Beberapa di antaranya meliputi sistem pengumpulan dan pemilahan sampah plastik terintegrasi, hingga kolaborasi kampanye lingkungan kreatif bersama tim mahasiswa Ma Chung Massive Movement.
Baca juga: LIRA Kota Malang Siap Kawal Advokasi Pendidikan, Kecam Keras Kekerasan di SMPN 18
Menariknya, kemitraan ini tidak sekadar berfokus pada ekologi, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan sivitas akademika melalui program pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis.
Perwakilan Plastic Bank Indonesia, Iqdam Kusumawardhana, tak menutupi antusiasmenya terhadap progres signifikan yang ditunjukkan oleh Universitas Ma Chung.
”Kami sangat senang bisa melihat langsung implementasi program ini. Dalam ekosistem kami, kerja sama pengelolaan lingkungan terjalin mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kami berharap kontribusi Ma Chung terus bertambah dan program ini semakin melangkah maju,” ujarnya di sela-sela peninjauan.
Di tempat yang sama, Wakil Rektor III Universitas Ma Chung, Wawan Eko Yulianto, Ph.D., menegaskan bahwa kemitraan dengan Plastic Bank melampaui batas program kampus biasa. Ia menyebut kolaborasi ini sebagai sebuah upaya rekayasa sosial (social engineering) di lingkungan akademis.
”Melalui kerja sama ini, kami menemukan ruang baru untuk terus memperbaiki diri. Ini adalah kesempatan langka untuk melakukan social engineering, di mana kita tidak sekadar menambahkan suatu program ke dalam komunitas, tetapi benar-benar mengubah cara hidup kita agar bisa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas,” tutur Wawan.
Sinergi jangka panjang ini diharapkan tidak hanya mampu mewujudkan lingkungan kampus yang lebih hijau, tetapi juga menjadi cetak biru (blueprint) penanganan krisis sampah plastik berbasis institusi pendidikan di tingkat global. (ARD)
Penulis: Ardian F. R
Editor: Mukh. Munif
















