Malang, Swa News — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek), Prof. Stella Christie, Ph.D., mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) saat ini bahkan dinilai lebih empatik dibanding manusia.

Pernyataan itu disampaikan Prof. Stella saat menjadi pembicara dalam kegiatan Al-Hikam Talk pada rangkaian Festival Ilmiah Santri (FIS) di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Jumat (7/2/2026).
Dalam pemaparannya, Prof. Stella merujuk pada hasil penelitian Universitas California, San Diego yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Internal Medicine. Studi tersebut membandingkan respons dokter dan chatbot AI dalam sesi anamnesis (tahap awal konsultasi medis:red).
“Hasil penelitian menunjukkan jawaban AI lebih menunjukkan empati. Bahkan, 78,6 persen tim penilai independen lebih menyukai respons chatbot dibanding jawaban dokter,” ungkapnya.
Apa yang Tersisa bagi Manusia?
Di tengah pesatnya kemajuan AI, Prof. Stella menekankan bahwa manusia tetap memiliki ruang yang tidak bisa digantikan mesin, yakni kemampuan berpikir kritis dan evaluatif.
“Manusia harus mampu mengevaluasi hasil atau rekomendasi dari AI. Itu yang tidak dimiliki mesin,” tegasnya.
Paparan tersebut memantik beragam respons peserta. Salah satunya datang dari Ahmad Fahim Royyandi, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB).
“Awalnya saya skeptis AI bisa punya ‘perasaan’. Tapi setelah melihat data tadi, saya sadar santri tidak bisa hanya mengandalkan hafalan. Kita harus punya kemampuan analisis yang tidak bisa ditiru mesin,” ujarnya antusias.
Menjawab tantangan perkembangan teknologi, Prof. Stella menegaskan komitmen Kemendikti Saintek untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui kolaborasi global.
Salah satu langkah konkret yang tengah difasilitasi adalah berdirinya kampus King’s College London di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari, Malang.
“Generasi muda Indonesia ke depan bisa menempuh pendidikan berstandar internasional tanpa harus keluar negeri. Ini tentu lebih hemat dan aksesnya lebih luas,” jelasnya.
Prof. Stella menutup dengan penegasan bahwa sistem pendidikan seharusnya menekankan pada pemikiran ilmiah, bukan sekadar hafalan.
“Pendidikan itu harus mendidik kita bernalar dan berpikir. Karena pemikiran ilmiah menghasilkan pertanyaan yang tepat sekaligus jawaban yang pasti,” ujarnya kepada reporter Swa News. (Noaf)
Reporter: Muh Noaf Afgani









