Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News — Akademisi Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Cahyo Prayogo, memberikan kuliah tamu di Fakultas Kehutanan dan Alam Sekitar, Universiti Putra Malaysia (UPM), dalam Program Pioneer 2026 pada 24–30 Oktober 2026.
Sebagaimana dilangsir dari laporan resmi Humas UB, Prof. Cahyo membawakan materi berjudul Peluang dan Tantangan Pengembangan Perhutanan Sosial dan Agroforestry di Indonesia yang mengulas potensi pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa keragaman ekologis Indonesia menuntut pendekatan yang spesifik di setiap daerah guna mendukung kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Prof. Cahyo menjelaskan bahwa perhutanan sosial berperan strategis karena membuka akses bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan hutan, sementara agroforestri memadukan tanaman kehutanan dan pertanian untuk manfaat ekologis dan ekonomi.
“Indonesia memiliki kondisi ekologis, curah hujan, dan topografi yang sangat beragam. Karena itu, tidak ada satu pendekatan tunggal untuk pengelolaan hutan dan agroforestri. Setiap daerah membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan karakteristiknya,” ujar Prof. Cahyo.
Selain di UPM, ia juga menjajaki kerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam terkait pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk pemantauan kebakaran hutan, yang mencerminkan upaya UB memperkuat kiprah internasional melalui kontribusi akademis di forum global.

















