Banyuwangi, Swa News – Gelaran acara dangdutan Isra Mi’raj di Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Songgown pada Jumat (16/1/2026) lalu, kini menjadi perbincangan publik.
Kegiatan peringatan Isra Mi’raj itu menuai kontroversi usai menampilkan hiburan dangdut yang dinilai seronok dalam satu panggung kegiatan keagamaan.

Unggahan terkait gelaran acara dangdutan Isra Mi’raj di Banyuwangi itu pun viral di media sosial. Dalam unggahan reels di akun Bosman Mardigu lebih dari 2 ribu komentar dan 32 ribu pelihat. Bahkan acara itu menuai 26,4 ribu komentar dan 2 juta pelihat di salah satu akun instagram Banyuwangi.
Usai viral, panitia penyelenggara acara Isra Mi’raj tersebut telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat.
Mereka mengakui adanya kelalaian dan beralibi bahwa hiburan dangdut tersebut hanya dimaksudkan sebagai penutup bagi warga yang belum pulang. Panitia mengaku tidak menyangka kegiatan itu justru memicu kegaduhan di tengah publik.
“Hiburan yang menghadirkan biduan pada acara Isra Mi’raj tersebut memang benar adanya. Akan tetapi, hiburan tersebut digelar setelah acara usai dan seluruh undangan serta kiai sudah tidak ada di tempat,” ujar Hadiyanto, Sabtu (17/1/2026).
Baca juga: Di Balik Politisasi Isu Tumpang Pitu, Banyuwangi Syndicate Menduga Ada Manuver Delegitimasi Politik
MUI Kecam Acara Dangdutan Isra’Miraj di Banyuwangi
Menanggapi video yang beredar terkait dangdutan Isra Mi’raj tersebut, Wakil Ketua Umum DP MUI Banyuwangi, Sunandi Zubaidi, mengecam keras aksi seorang biduan dangdut yang berjoget erotis dalam acara peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW itu.
“Peristiwa tersebut sangat mencederai kesakralan peringatan Isra Mi’raj yang seharusnya diisi dengan kegiatan bernuansa religius,” ujarnya.
Lebih lanjut, MUI Kabupaten Banyuwangi menyatakan masih mendalami kasus dangdutan Isra Mi’raj tersebut, termasuk mengkaji kemungkinan adanya pelanggaran hukum yang dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.

“Aksi tersebut tidak pantas dan berpotensi mengarah pada penistaan agama karena mencampuradukkan kegiatan sakral dengan hiburan yang menjurus erotis,” tambahnya.
Ke depan, pihak MUI juga mengingatkan agar para penyelenggara kegiatan keagamaan lebih berhati-hati dalam menyusun rangkaian acara agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat. (AN)
















