Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Nagekeo, Swa News — Di tengah duka dan reruntuhan akibat bencana gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah pemandangan menyentuh hati tercipta di kawasan perbukitan Nangadhero–Marapokot, Mbay.

Di tempat yang berhadapan langsung dengan bentang Laut Utara—titik pusat awal guncangan gempa—sejumlah anak-anak pengungsi Nagekeo berkumpul meluangkan waktu sejenak tepat pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Dengan kondisi seadanya dan beralaskan tanah bukit tempat mereka mengungsi, anak-anak tersebut secara bersahaja membentangkan dan mengibarkan satu bendera Merah Putih. Berdiri tegak di bawah terik matahari, mereka mengangkat tangan, memberikan hormat setinggi-tingginya kepada sang saka.
Baca juga: Negara dan Pasar
“Meluangkan waktu sejenak mengibarkan dan menghormati bendera, memperingati HUT RI ke-81 di tempat pengungsian berlatar sumber gempa laut utara Marapokot – Mbay – Nagekeo,” tulis potret ketergugahan emosional yang membanjiri jagat media sosial tersebut.
Potret sederhana ini seolah menjadi tampar sekaligus penawar di tengah karut-marutnya penanganan bencana di daerah tersebut. Di saat isu pelayanan publik, birokrasi bantuan yang membebani warga, hingga fasilitas pengungsian menjadi sorotan tajam, anak-anak di bukit Nangadhero justru menunjukkan makna sejati dari sebuah ketangguhan dan rasa cinta tanah air.
Di perbukitan yang kini menjadi benteng perlindungan mereka dari ancaman tsunami dan gempa susulan, kibaran Merah Putih di tangan anak-anak Mbay menyampaikan pesan tersirat yang sangat kuat: bahwa meski bumi Nagekeo berguncang dan bantuan Pemda dinilai lamban, semangat serta cita-cita anak-anak pesisir Marapokot tidak pernah patah.(ARD)
Penulis: Ardian F. R
Editor: Mukh. Munif


















