Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News — Peringatan Hari Tani Nasional di Kota Malang disuarakan lewat jalanan. Ratusan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (Amarah Brawijaya) menggelar unjuk rasa yang menyatu dengan momentum Aksi Kamisan Malang ke-148 di depan Gedung DPRD Kota Malang, Kamis (24/9/2026).

Massa mulai memadati area pagar gedung perwakilan rakyat tersebut sejak pukul 16.00 WIB. Orasi demi orasi yang menuntut kesejahteraan kaum tani terus bergema hingga langit Malang beranjak gelap selepas waktu Magrib.
Pada Aksi Kamisan ke-148 ini, fokus utama massa adalah menyoroti karut-marut persoalan di sektor pertanian dan keadilan agraria. Salah satu isu krusial yang diangkat adalah sulitnya akses petani terhadap pupuk bersubsidi yang berdampak langsung pada biaya produksi pertanian.
Suasana khas Kamisan sangat terasa di tengah aksi. Para mahasiswa tampak membentangkan potret aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus alumnus UB, Munir Said Thalib. Poster bertuliskan ‘Kami Sudah Lelah dengan Kekerasan’ diangkat tinggi-tinggi, menjadikannya simbol perlawanan atas pudarnya keadilan agraria sekaligus lambannya penanganan kasus-kasus HAM di Indonesia.
Koordinator aksi, Farhan, menegaskan bahwa demonstrasi ini digelar sebagai ruang terbuka untuk menyuarakan nasib petani di Malang Raya, bukan sekadar untuk menuntut pertemuan dengan anggota dewan. Menurutnya, momentum Hari Tani Nasional harus menjadi pengingat bahwa petani hingga hari ini masih jauh dari kata sejahtera.
”Kami turun ke jalan untuk memperingati Hari Tani. Di Malang Raya, sangat banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan berprofesi sebagai petani. Tapi pertanyaannya, apakah mereka sudah mendapatkan keadilan? Apakah mereka sudah mendapatkan hak-hak mereka?” tegas Farhan di sela-sela orasi.
Sayangnya, hingga massa membubarkan diri pada malam hari, tidak ada satu pun anggota DPRD Kota Malang yang keluar menemui para demonstran. Mahasiswa menilai, absennya para wakil rakyat tersebut menjadi bukti nyata bahwa negara beserta para pemangku kebijakannya belum sepenuhnya berpihak pada nasib dan kesejahteraan petani. (MJL)
Pewarta: Mujalli
Editor: Mukh. Munif

















