Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Oleh: Prof. KH. Uril Bahruddin
[Pengurus Majelis Tarjih wa Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Timur]
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.'” (Q.S. At-Taubah: 105).
Dalam setiap musim haji, jutaan umat Islam di seluruh dunia meminum air Zamzam. Mereka meyakini akan keberkahannya. Namun, di balik keyakinan atas keberkahan tersebut, sebagian mereka juga memaknai hakikat teoekologis dalam sejarah proses panjang yang menyertainya.
Menurut alkisah, sebelum Zamzam muncul, Siti Hajar berada dalam situasi yang sangat sulit. Menjadi seorang ibu yang ditinggalkan suami bersama bayinya di sebuah lembah yang gersang, tanpa sumber makanan dan air.
Ketika persediaan habis dan tangisan Nabi Ismail semakin memilukan, Siti Hajar tidak memilih menyerah. Ia berlari dari Bukit Shafa menuju Marwah, lalu kembali lagi hingga tujuh kali. Dari sudut pandang manusia, usaha itu tampak mustahil menghasilkan air.
Ternyata, air Zamzam yang saat ini juga merupakan situs sejarah itu tidak muncul dari puncak tempat Siti Hajar berlari, yakni Shafa dan Marwah, melainkan memancar dari tempat dekat Nabi Ismail berada.

Maka, dalam perspektif hermeneutik Islam, kronologi peristiwa Zamzam menunjukkan bahwa pertolongan Allah bukanlah mekanisme kausalitas kemanusiaan semata. Justru kadang sebaliknya, hadir untuk memperkuat otoritas dependensi kuasa Allah yang mutlak.
Berikutnya, kontekstualisasi perjalanan sejarah tersebut menjadi konstruksi tata syariat sa’i dalam rukun haji maupun umrah. Namun, pada perkembangannya bukan untuk justifikasi keberadaan air Zamzam semata, melainkan menjadi perjalanan pengulangan sirah Siti Hajar.
Pada akhirnya, sejarah air Zamzam mengajarkan hikmah bahwa penerimaan nikmat terbesar bagi manusia bukan hanya sekadar ketika doa hamba dikabulkan, melainkan cara pandang tentang Allah yang akan selalu membimbing seorang hamba untuk berikhtiar (berproses), tetap melangkah, tetap berharap, dan tetap bertawakal di tengah keterbatasannya.
Wallahu a’lam.
Madinah, 17 Juli 2026
















