Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Kota Batu, Swa News — Sebanyak 33 seniman dari Pondok Seni Batu menyatukan suara lewat pameran seni rupa bersama bertajuk Like a Rolling Stone di Galeri Raos, Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu.
Pameran yang resmi dibuka pada 11 Juli 2026 dan berlangsung hingga 2 Agustus 2026 ini mengambil tajuk dari lagu legendaris Bob Dylan. Tajuk tersebut sengaja dipilih sebagai bentuk kritik para seniman terhadap derasnya arus perubahan di Kota Batu.
Dari yang dahulu dikenal sebagai kota agraris yang sejuk, kini Kota Batu menghadapi tekanan pembangunan dan alih fungsi lahan yang masif.
Melalui beragam karya, para seniman Kota Batu menyoroti tiga isu utama, yaitu lingkungan, pertumbuhan pariwisata, dan pergeseran gaya hidup warga Kota Batu.
Salah satu karya yang mencuri perhatian datang dari Sugeng Pribadi atau yang akrab disapa Klemin. Ia menampilkan karya mixed media berjudul Lifestyle Changes berbentuk tas raksasa berukuran 200 × 80 sentimeter.
Bagi Klemin, karya tersebut menyindir maraknya budaya konsumtif yang mulai mengakar di masyarakat Kota Batu.
“Batu sekarang banyak yang konsumtif. Entah itu barang branded atau barang-barang yang lagi tren,” katanya, Sabtu (25/7/2026).
Ia menilai perkembangan Kota Batu sebagai kota wisata memang membawa berkah ekonomi. Sektor ekonomi kreatif tumbuh, produk olahan apel bermunculan, dan UMKM semakin berkembang.
Namun, di sisi lain, pertumbuhan tersebut juga meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Klemin menyoroti dampak pembangunan yang mulai terasa. Lahan hijau berkurang, suhu udara meningkat, dan debit beberapa sumber mata air mulai menurun.
“Harapan saya kita bisa berekonomi juga berekologi. Harus ada keseimbangan. Kita berekonomi, tapi tidak memikirkan ekologinya, lingkungannya, terus generasi kita nanti akan seperti apa untuk menikmati Kota Batu ini,” ujarnya.
Selain itu, ada pula satu patung yang paling banyak diperbincangkan pengunjung dalam pameran tersebut, yaitu Patung Semar karya Agus Sujito.
Patung berbahan fiber itu tidak hanya tampil sebagai karya seni biasa. Seniman asal Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, tersebut menyisipkan pesan sosial yang cukup tajam di dalamnya.

Agus menggambarkan Semar sedang membawa bingkisan yang dibalut bendera Merah Putih. Di tangan kanannya terikat pita putih bertuliskan “PMI” beserta logonya.
Bagi Agus, karya tersebut lahir dari kegelisahannya melihat arah kebijakan negara saat ini.
“Menurut saya Indonesia ini sedang sakit. Banyak kebijakan pemerintah sekarang tidak memihak rakyat. Contohnya program MBG dan Koperasi Merah Putih,” ungkap Agus.
Pemilihan tokoh Semar bukan tanpa alasan. Dalam dunia pewayangan, Semar dikenal sebagai penasihat para raja yang bijaksana dan mengayomi. Sosok tersebut sengaja dipilih untuk mengingatkan para pemimpin.
Detail pada patung itu juga sarat makna. Bungkusan berbendera Merah Putih menggambarkan beratnya tanggung jawab dalam mengelola bangsa. Sementara itu, pita bertuliskan PMI di tangan kanan menjadi simbol pentingnya nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa.
“Harapannya lewat karya ini masyarakat mau merenung. Membangun negeri itu tidak hanya soal infrastruktur dan program, tapi juga butuh hati nurani dan akal sehat,” pungkasnya.
Pameran di Galeri Raos ini diikuti oleh 33 seniman dari berbagai daerah. Mereka menampilkan karya dengan gaya dan tema yang beragam.
Beberapa nama yang turut ambil bagian antara lain A. Rokhim, Abdul Sukur, Adi Gimble, Ahmad Saihu, Akhmad Kholili (Benol), Anwar, Didik Hamdi, Djoeari Soebardja, Dwi Christanto, Eko Paparock, Faal Jagra, dan Fadjar Djunaedi.
Selain itu, ada pula Halim Abdul, Jumali Kerto, Luluk Agustina, Marselina Adeline, M. Taufik, M. Yunus, Naorra Delatista, O’ing Muzakki, Prie Wahyuono, Riyanto Sinyo, Sholikin Robot, Soegiono, Sugeng Mulyadi, Sugeng Pribadi (Klemin), Sujono Djonet, Susanto, Yusfianto, hingga Zhirenk.

















