BALADA ADI PODEI DAN ADI RASA
Oleh : Feri Jatmiko
Aku mendengar gemuruh angin
Menggertak pucuk-pucuk pohon
Seperti tangan tak terlihat meninju nasib tanahku
Langit menghitam di atas sana
Sementara mata para pemangku
Laksana lampu pelabuhan yang padam
Tak pernah melihat buntilan harapan dan juga doa

Aku menyaksikan kegelisahan itu
Nasib saudara tua yang perlahan dibuang
Sementara adiknya berdiri gagah dengan pelabuhan yang ramai
Kapal-kapal datang seperti doa yang selalu dikabulkan
Aku dengar suara lirih di antara hujan dan angin yang singgah dalam pohon kesambi
Wahai Adi Rasa, bukan iri yang mengetuk dadaku
Namun engkau tahu, Eyang kita bersemayam di jalan robek ini
Ramanda kita terbaring di pulau ini
Di sinilah darah pertama kita jatuh tertumpah sebelum angin menerbangkan jarak pada laut yang berbeda
ICT Watch Menyoroti Pelaksanaan Pembatasan Akses Digital Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Hujan-hujan turun lagi
Desir angin dan ombak merobek lautan menyipta krikil jalan terjal
Dari seberang ombak jawaban itu datang perlahan
Kakandaku, Adi Podei…
Hidup tak selalu berlayar dengan puja dan puji
Hari ini bukan masa lalu
Anak cucu kita perlu perlu belajar merias diri
Ombak zaman telah berubah arah
Kita harus belajar berenang di dalamnya
Adi Podei menunduk lama
Debur laut terdengar berat seperti napas kapal yang menua
Aku telah lama menengadah, Dinda . .
Langkahku tak lagi panjang
Nafasku tersengal mengejar waktu yang berlari
Aku tak pasrah pada nasib
Tetapi anak-anakku kini lebih gemar berdendang dengan senyum di atas perutnya sendiri
Mereka menari di tepian mimpi tanpa menyadari bahwa ombak perlahan menusuk tanah di bawah kaki
Dinda, dalam angin senja yang turun ini
Aku berdiri dengan syukur, dan sedikit iri
Puasa kita sama, Dinda
Sama-sama sehari menahan lapar
Namun ketika malam membuka pintu
Hidanganmu berderet di meja dermaga
Sementara aku hanya menerima satu dua remah yang hanyut dari kapal yang singgah
Angin diam sejenak
Adi Rasa menjawab perlahan
Wahai Kakanda Adi Podei, bangunlah . . .
Kita tidak hidup dalam ruang kenangan
Tinggalkan santapan yang membuatmu terlelap dalam kantuk yang panjang
Tak seharusnya kita berbeda dalam segala hal
Tapi bila itu terjadi kita harus menyadari
Perbedaan bukan selalu datang dari laut yang tak kita ketahui
Perbedaan lahir dari tangan kita sendiri yang enggan mendayung
Padahal Tuhan telah memberikan sampan
Diatasnya telah dihadirkan bintang dan bulan sebagai kompas
Tapi kita selalu rebah oleh angin yang menjadi selimut
Kita lebih asyik tidur mendengkur kemudian bangun, sujud, dan bersyukur
Gayam, 2026
Sastrawan


















