Malang, Swa News – Usia 84 tahun tak mengurangi semangat Pak Djamal untuk mengais rezeki. Di usia yang bagi sebagian orang dihabiskan untuk beristirahat di rumah bersama cucu, warga Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang ini justru tetap setia mendorong gerobak kecilnya berkeliling menjajakan sayur.

Jualan sayur keliling menjadi satu-satunya sumber penghidupan yang ia tekuni hingga hari ini. Tubuhnya memang tak lagi setegap dulu. Langkahnya pun tak secepat masa muda. Namun semangatnya tetap utuh. Setiap hari, ia berjalan kaki sejauh kurang lebih 8–10 kilometer dari rumahnya di Desa Sukodadi menuju kawasan Bandulan, Kota Malang, sambil mendorong gerobak kecil berisi dagangan daun pepaya jepang.
Perjalanan itu tentu bukan jarak yang ringan untuk pria seusianya. Saat ditemui di pertigaan Gang 8 Bandulan, Pak Djamal tengah beristirahat di dekat sebuah pos kamling. Dengan nada tenang, ia bercerita tentang rutinitasnya.
“Saya sudah biasa keliling jualan sayur daun pepaya jepang. Kalau sayur belum habis, saya tidur di sini,” ujarnya sambil menunjuk pos kamling di pertigaan tersebut.
Baca juga: 25 Tahun Menyapu Alun-alun Merdeka: Anto Tetap Setia Meski Sampah Tak Pernah Berkurang
Ia memang telah menyiapkan segalanya. Di gerobaknya, tersimpan perlengkapan tidur sederhana—bantal kecil, selimut, serta alas karpet. “Saya sudah bawa peralatan tidur. Ada bantal, selimut, alas juga. Selain ngetem di sini, kadang saya ngetem di daerah Niwen. Di sana juga ada tempat seperti ini buat tidur. Nanti kalau sayur sudah habis, saya jalan ke pom bensin Sukun. Di sana ada pick up langganan yang biasa mengantar saya pulang,” jelasnya.
Daun Pepaya Jepang dari Kebun Sendiri
Dagangan Pak Djamal sederhana. Ia hanya menjual satu jenis sayur, yakni kulupan daun pepaya Jepang. Sayur itu ia kemas dalam dua bungkus dengan harga Rp5.000. Tak banyak variasi, namun cukup untuk menghidupi hari-harinya. Ia mengaku telah lama menekuni pekerjaan ini. Sayur yang dijualnya pun bukan hasil membeli dari pasar, melainkan dari kebun sendiri di kampung halaman.

“Saya sudah lama jualan sayur ini, Mas. Saya ambil sayurnya dari kebun sendiri. Yang ngurus kebun anak saya, kadang saya juga bantu biaya perawatan kebun,” tuturnya.
Pak Djamal tinggal bersama istri dan seorang anak laki-lakinya. Meski telah lanjut usia, ia memilih tetap bekerja dan tidak ingin sepenuhnya bergantung pada anaknya. Baginya, selama kaki masih mampu melangkah dan tangan masih kuat mendorong gerobak, bekerja adalah pilihan yang harus dijalani.
Di tengah terik matahari atau dinginnya malam di pos kamling, Pak Djamal menunjukkan bahwa usia hanyalah angka. Semangat, ketekunan, dan kemandirian adalah nilai yang ia pegang teguh. (MJ)
Reporter: Mujali









