Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
SURABAYA, Swa News — Atlet Jawa Timur yang memperkuat Kontingen Indonesia pada Asian Para Games 2026 di Aichi–Nagoya, Jepang, menorehkan sejumlah prestasi. Hingga Sabtu (24/10/2026) pagi, enam atlet Jatim tercatat telah mengoleksi total 13 medali individual, terdiri atas dua emas, lima perak, dan enam perunggu.
Dikutip dari laporan resmi Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, capaian tersebut turut diwarnai pemecahan dua rekor Asia di cabang olahraga para renang oleh Maulana Rifky Yavianda. Selain menambah perolehan medali Indonesia, atlet Jatim juga mencatatkan sejarah baru di cabang para panahan.
Ketua Komite Paralimpiade Indonesia (NPCI) Provinsi Jawa Timur, Imam Kuncoro, yang mendampingi langsung para atlet di Jepang, mengapresiasi dedikasi para atlet. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan jangka panjang yang dilakukan secara sistematis.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja panjang para atlet, pelatih, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan. Kami bersyukur atlet-atlet asal Jawa Timur dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana hasil ini menjadi pijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi pada ajang internasional berikutnya,” ujar Imam dalam keterangan resminya.
Sejarah baru juga tercipta melalui atlet para panahan, Ken Swagumilang, yang meraih dua medali perak di nomor beregu compound. Keberhasilan Ken bersama pasangannya disebut menjadi medali perak pertama bagi Indonesia di cabang para panahan sepanjang sejarah keikutsertaan pada Asian Para Games.
Sementara itu, kontribusi medali dari cabang olahraga lainnya datang melalui Nanda Mei Sholihah di para atletik dan Khalimatus Sa’diyah di para bulu tangkis. Keduanya masing-masing menyumbangkan medali perunggu bagi Indonesia.
Wakil Sekretaris NPCI Jawa Timur, Roy Agustinus Soselisa, menekankan pentingnya penerapan ilmu keolahragaan (sports science) dalam pembinaan atlet disabilitas. Menurutnya, prestasi di tingkat internasional membutuhkan proses panjang dan tidak dapat diraih secara instan.
“Rekor Maulana dan pencapaian bersejarah Ken harus menjadi pijakan pembinaan olahraga prestasi di Jawa Timur. Prestasi tidak cukup dibangun melalui intensitas latihan semata, tetapi membutuhkan penerapan ilmu keolahragaan secara konsisten agar proses pembinaan lebih terukur dan potensi atlet berkembang optimal,” tegas Roy.
Capaian para atlet tersebut diharapkan menjadi dorongan bagi pembinaan olahraga paralimpiade di Jawa Timur agar semakin terarah dan mampu melahirkan prestasi di ajang internasional berikutnya.
Foto Via Kominfo Jatim


















