Momentum Ramadhan Perkuat Pembentukan Karakter Muslim
Oleh: Prof. Dr. KH. Uril Bahrudin, MA
“Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam” (QS: Ali Imran: 102). Makna ayat ini semakin menjadi penegas bahwa Islam merupakan jalan hidup (way of life) menuju paripurna.
Dalam konteks inilah, puasa Ramadhan hadir sebagai bagian dari sarana akselerasi yang holistik. Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan merupakan madrasah pembentukan karakter.

Ramadhan Perkuat Pembentukan Karakter Muslim
Ada lima fungsi puasa Ramadhan yang kemudian menjadi instrumen efektif dalam menginternalisasi nilai-nilai karakter Islam pada tiga level tersebut: pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Pertama, puasa berfungsi sebagai pakaian takwa. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, tujuan puasa adalah agar kita bertakwa. Inti takwa adalah kehati-hatian dalam bertindak. Orang yang bertakwa ibarat mengenakan pakaian putih bersih; ia akan berjalan penuh perhatian, menjaga langkahnya agar tidak terkena noda.
Kedua, puasa berfungsi sebagai pelindung. Rasulullah bersabda bahwa “puasa adalah perisai”. Ketika seseorang berpuasa, ia diminta untuk tidak berkata kotor, tidak berteriak, dan tidak terpancing pertikaian. Bahkan, jika dicela atau diajak bertikai, ia cukup berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Baca juga: Khotmil Qur’an dan Spirit Keseimbangan
Ketiga, puasa adalah tradisi mendekatkan diri kepada Allah. Ramadhan menghadirkan suasana spiritual yang berbeda. Tilawah Al-Qur’an semakin intens, doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap, dan malam-malam dihidupkan dengan ibadah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 186, Allah menegaskan bahwa Dia dekat dan mengabulkan doa hamba-Nya. Kedekatan ini melahirkan rasa diawasi. Orang yang merasa diawasi Allah tidak akan mudah menyimpang, sekalipun tak ada manusia yang melihat. Kesadaran tersebut tertanam dalam diri menjadi modal integritas.
Keempat, puasa membentuk keikhlasan dan kedisiplinan. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa setiap amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk Allah dan Allah sendiri yang membalasnya. Puasa adalah ibadah yang sangat personal. Puasa melatih kejujuran karena hanya dirinya dan Allah yang benar-benar tahu kualitasnya. Maka, melalui proses tersebut akan lahir pribadi yang ikhlas, bekerja tanpa pamrih, dan beramal tanpa riya.
Kelima, puasa Ramadhan akan mempererat kebersamaan dalam hubungan sosial. Banyak perilaku positif yang tampak: suasana salat berjamaah semakin ramai, tradisi buka bersama semakin mempererat ukhuwah, zakat dan sedekah mengalir lebih deras, hingga puncaknya pada salat dan silaturahmi Idulfitri. Kesemuanya memperluas interaksi sosial, membangun empati, memperkuat solidaritas, dan mengikis sekat-sekat sosial.
Maka, sejatinya Ramadhan merupakan sarana efektif untuk merealisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Ia membina pribadi agar bertakwa dan disiplin, menguatkan keluarga dengan suasana ibadah dan kebersamaan, serta menyejukkan masyarakat melalui solidaritas dan kepedulian.
Wallahu a’lam.
Prof. Dr. KH. Uril Bahrudin, MA
Guru Besar UIN Maliki Malang









