Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jakarta, Swa News— Pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang menyebut sejumlah pakar bisa menjadi “goblok” karena merasa terlalu pintar kini memicu gelombang reaksi publik yang cukup masif. Salah satu respon cukup pedas disampaikan oleh komika, Kemal Palevi.

Terkait pernyataan Presiden Prabowo tersebut saat menghadiri perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC (18/9).
Dalam pidatonya, Prabowo mengklaim adanya pihak-pihak yang mengatasnamakan kepakaran namun justru dianggapnya melontarkan fitnah dan tidak memiliki kejujuran intelektual.
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” tegas Prabowo di hadapan para kader partai PAN.
Baca juga: Sound Horeg Langgar Prinsip Maqashid al-Syari’ah, Investigasi Pakar Hukum Islam UMM
Melalui akun media sosialnya, komika Kemal Palevi memberikan respons yang cukup pedas menyoroti etika komunikasi seorang kepala negara. Kemal menekankan kekhawatirannya terhadap dampak psikologis dan edukatif bagi para siswa di sekolah, mengingat foto resmi Presiden terpajang di setiap ruang kelas.
“Tapi serius, gak ada yang lebih serem, dari tiap ruang kelas di sekolah-sekolah, yang memajang foto presiden, dan begitu anak sekolah itu buka internet, dan liat foto yang dipajang itu viral karena ngatain pakar GOBLOK,” tulis Kemal dalam unggahannya yang segera memancing perdebatan netizen.
Lebih lanjut, Kemal tidak hanya mengkritik pilihan kata sang Presiden, tetapi juga mengungkit kembali memori publik mengenai kekeliruan hitungan matematika yang pernah dikaitkan dengan Prabowo di masa lalu. Sindiran ini merujuk pada narasi “2+8=11” yang sempat menjadi bahan olok-olok di jagat maya.
Kemal seolah ingin mempertanyakan standar kepintaran yang digunakan Presiden untuk melabeli para pakar dengan sebutan kasar tersebut. Sementara rekam jejak digital sang pemimpin juga tidak luput dari kesalahan fundamental. (ARD)
Penulis: Ardian F. R
Editor: Mukh. Munif


















