Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Surabaya, Swa News – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat terus melanda sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur, termasuk Gunung Bromo dan Arjuno-Welirang, hingga Senin (19/10/2026).
Sebagaimana dilangsir dari laporan CNN Indonesia, titik api masih terpantau aktif di beberapa lokasi strategis seperti Gunung Bromo, Gunung Sigiran, serta kawasan Arjuno-Welirang, khususnya di Gunung Ringgit dan wilayah pegunungan di Situbondo. Kondisi cuaca yang tidak menentu memperburuk situasi di lapangan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengungkapkan bahwa kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, telah melahap sedikitnya 75,37 hektare lahan sejak pertama kali muncul di Bukit Kembang pada Kamis (15/10).
“Saat ini, petugas gabungan memprioritaskan upaya pengendalian agar api tidak terus menyebar. Angin kencang menjadi salah satu kendala utama karena mempercepat pergerakan api dan memperluas area terdampak,” ujar Satriyo dalam keterangannya.
Tragedi ini juga memakan korban jiwa di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Tercatat empat personel petugas gabungan meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka berat saat berupaya memadamkan api.
Di sisi lain, kebakaran juga melanda Gunung Sigiran di Mojokerto dan Gunung Ringgit di Pasuruan. Ratusan personel dari BPBD, Tahura, Perhutani, dan relawan masyarakat terus bersiaga melakukan pemadaman manual serta pembuatan sekat bakar (ilaran) guna memutus jalur api.
Selain wilayah pegunungan utama, tiga titik api baru juga terdeteksi di kawasan Tamankursi, Situbondo, yang dampaknya mulai meluas ke sebagian wilayah Probolinggo dan Jember.
BPBD Jawa Timur kini terus berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melakukan penilaian kondisi lapangan secara berkala. Pemantauan jarak jauh tetap diintensifkan guna mengawasi pergerakan api di area-area yang sulit dijangkau oleh jalur darat.


















