Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Rangkaian Sarasehan Nasional MPDI 2026 di Malang bertema Bersama Dakwah dan Al-Qur’an, Menguatkan Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Koperasi, resmi ditutup oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum, pada Minggu (28/6/2026).
Dalam acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Darul Ukhuwah, Malang, Jawa Timur sejak Sabtu (27/8/2026) itu, Ketua Umum Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI), KH. Abdul Rasyid, menegaskan bahwa MPDI tidak pernah surut berkomitmen membangun kemandirian pesantren dan kini siap bersinergi dengan visi besar Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Pesantren memiliki akar sejarah yang panjang dalam kemandirian ekonomi. Hari ini, melalui MPDI, kita perkuat lagi fondasi tersebut lewat kelembagaan koperasi yang modern dan akuntabel. Ini kontribusi nyata kami dalam mendukung program ekonomi Presiden Prabowo Subianto. Pesantren siap menjadi motor penggerak ketahanan ekonomi nasional,” ujar KH. Abdul Rasyid, Malang, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Dewan Pakar MPDI, Prof. KH. Uril Bahrudin, melalui Sarasehan Nasional MPDI 2026 di Malang, MPDI tidak hanya membuka ruang penguatan konsolidasi strategis untuk merevitalisasi koperasi pesantren sebagai motor penggerak utama ekonomi umat.

Menurut Prof Uril, yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Badan Wakaf Pondok Pesantren Darul Ukhuwah Malang ini, terselenggaranya kegiatan ini juga ingin mempertegas kembali posisi konstitusional serta menghidupkan khittah sejarah pesantren yang sejak zaman kolonial telah terbukti menjadi episentrum perjuangan sekaligus simbol kemandirian ekonomi bangsa.
Pada kesempatan sambutan penutupan sarasehan nasional tersebut, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., juga menyinggung sejarah hubungan antara pesantren dan negara.
Menurutnya, terdapat tiga fase relasi pesantren dan negara, yaitu fase perjuangan, fase perjuangan kemerdekaan, dan fase mengisi peran pesantren dalam kemerdekaan.
“Pesantren dan negara memiliki hubungan sejarah yang panjang, dan saat ini pesantren harus menjadi bagian integral dan bersinergi didalam peran strategis negara, karena melalui kesertaannya dalam membangun kedaulatan maka partisipasinya akan mampu menjawab tantangan zaman,” ungkap Wamenag Romo Syafi’i dalam pidato sambutan penutupan Sarasehan Nasional MPDI di Malang, Minggu (28/6/2026).

















