Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
NGANJUK, Swa News – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) PSDKU Kediri berhasil menginisiasi program pemberdayaan masyarakat dengan mengubah limbah kulit bawang merah menjadi produk kertas bernilai ekonomi di Desa Bagor Wetan, Kabupaten Nganjuk.
Sebagaimana dilangsir dari laporan resmi Prasetya UB, kegiatan ini mengusung konsep ekonomi sirkular guna memberikan nilai tambah pada limbah pertanian yang selama ini hanya dibuang oleh para pengupas bawang di wilayah tersebut.
Program yang bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Teknologi Tepat Guna Pengolahan Limbah Kulit Bawang Merah menjadi Produk Bernilai Ekonomi Berbasis Ekonomi Sirkular” ini dilaksanakan pada Minggu (4/10/2026) dengan melibatkan sembilan mahasiswa dari Eksekutif Keluarga Mahasiswa Fakultas (EKMF) Peternakan Departemen Ristan.
Kegiatan ini dipelopori oleh jajaran dosen PSDKU UB Kediri, di antaranya Hanum Muarifah, S.Pt., Dr. Atik Winarti, S.Pt., dan Dr. Ir. Nanang Febrianto, S.Pt., M.P. Fokus utama dari pengabdian masyarakat ini adalah memperkenalkan teknologi tepat guna yang sederhana namun efektif untuk mengolah kulit bawang merah yang melimpah di Sukomoro.
Para peserta yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga dan pekerja pengupas bawang menunjukkan antusiasme tinggi saat melihat limbah yang biasanya mengotori lingkungan dapat bertransformasi menjadi lembaran kertas yang memiliki tekstur unik dan potensi pasar yang menjanjikan.
Dalam sesi praktik langsung, mahasiswa UB mendemonstrasikan tahapan produksi secara mendetail kepada warga. Putri Alfina Mubarokah, salah satu mahasiswa yang memandu jalannya praktik, menjelaskan bahwa proses dimulai dengan pencucian kulit bawang hingga bersih, kemudian direbus selama 30 hingga 50 menit untuk melunakkan seratnya.
“Setelah itu, kulit bawang disiram dengan air dingin sebelum diblender. Bahan bisa diblender sampai halus atau dibuat agak kasar, tergantung tekstur kertas yang ingin dihasilkan,” ujar Putri saat memberikan instruksi kepada para peserta di lokasi kegiatan.
Selain aspek produksi, tim pengabdian juga menekankan pentingnya proses pengeringan yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Dinda Nada Chalisa, mahasiswa lainnya, menambahkan bahwa lembaran kertas memerlukan waktu sekitar dua hari untuk kering sempurna di bawah terik matahari.
Kedepannya, inovasi ini tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan, namun juga direncanakan untuk diajukan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa paten. Langkah ini diambil untuk memperkuat keberlanjutan produk dan memastikan bahwa teknologi tepat guna ini dapat menjadi modal usaha mandiri bagi warga Desa Bagor Wetan dalam jangka panjang.


















