Jakarta, Swa News– Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merilis data terbaru mengenai sebaran Hantavirus di tanah air. Hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 23 kasus konfirmasi positif yang tersebar di sembilan provinsi, dengan angka fatalitas mencapai 13 persen.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengungkapkan bahwa dari total temuan tersebut, tiga pasien dinyatakan meninggal dunia. “Ini menjadi perhatian serius dalam penguatan sistem surveilans nasional kita,” ujar Aji dalam keterangan pers resminya pada Jumat (15/5).
Berdasarkan hasil uji laboratorium, mayoritas kasus yang ditemukan di Indonesia merupakan Hantavirus jenis Seoul Virus. Berbeda dengan varian yang menyerang paru-paru secara akut di wilayah Amerika, tipe Seoul lebih spesifik menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.
Data Kemenkes menunjukkan bahwa DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan temuan kasus tertinggi, masing-masing melaporkan enam kasus positif. Disusul oleh Jawa Barat dengan lima kasus, sementara wilayah lain seperti Jawa Timur dan sekitarnya terpantau mulai melaporkan temuan sporadis.
Pintu Masuk Negara Diperketat Cegah Hantavirus
Menanggapi tren kenaikan ini, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyatakan pemerintah telah menginstruksikan 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) untuk memperketat pengawasan di pintu masuk negara, terutama pada area pelabuhan dan bandara yang menjadi habitat utama tikus got (Rattus norvegicus).
“Risiko spillover atau penularan dari hewan ke manusia meningkat di area dengan sanitasi buruk. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak hanya waspada pada gigitan, tetapi juga pada kebersihan lingkungan dari kotoran tikus,” tegas Dante.
Pemerintah mengingatkan warga agar tidak menyapu kering kotoran tikus guna menghindari paparan aerosol (partikel udara) yang mengandung virus. Masyarakat disarankan menyemprotkan disinfektan terlebih dahulu sebelum membersihkan area yang terkontaminasi.
Hingga saat ini, pemerintah memastikan ketersediaan logistik pemeriksaan laboratorium di Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di berbagai daerah untuk mempercepat deteksi dini bagi pasien yang memiliki gejala serupa flu namun disertai penurunan fungsi ginjal secara mendadak.(ARD)

















