Ramadhan dan Pranata Keluarga Harmonis untuk Meraih Taqwa
Prof. Dr. KH. Uril Bahruddin, MA
Sebuah tema yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menentukan arah peradaban. Sebab dari keluargalah nilai-nilai ditanamkan, kebiasaan dibentuk, dan iman diwariskan. Ramadhan, dengan seluruh kekayaan spiritual dan sosialnya, adalah momentum emas bagi keluarga untuk kembali ke fitrahnya, menjadi ruang pembinaan iman dan akhlak, serta melatih kepedulian dan kebersamaan.
Di tengah kehidupan modern hari ini, banyak keluarga—tanpa disadari—terjebak dalam pola pengasuhan yang sangat materialistik. Perhatian besar tercurah pada pemenuhan fisik anak-anak: makanan terbaik, sekolah mahal, pakaian bermerek, dan fasilitas yang serba nyaman. Bahkan nilai yang ditanamkan sering kali berputar di sekitar pencapaian materi dan status sosial. Sementara pendidikan yang bersifat komprehensif, yang membentuk karakter, daya tahan moral, dan kedalaman makna hidup, justru kerap terpinggirkan.

Ramadhan dan Pranata Keluarga Harmonis
Ramadhan datang sebagai koreksi lembut sekaligus peluang besar. Selama tiga puluh hari penuh, siang dan malamnya, keluarga diajak masuk ke dalam sebuah “pengalaman spiritual kolektif” yang jarang ditemukan di bulan lain. Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan madrasah kehidupan. Ia bukan hanya untuk satu bulan, tetapi untuk sebelas bulan berikutnya. Bahkan, sejatinya, Ramadhan bagi seorang muslim adalah pelajaran untuk seumur hidup.
Baca Juga: Sekapur Sirih Sirah Ramadan
Ramadhan dan Pranata Keluarga Harmonis
Menariknya, mayoritas umat Islam—bahkan mereka yang mungkin belum sepenuhnya konsisten dalam menjalankan ajaran agama sekalipun—tetap menjaga dan menjalankan puasa Ramadhan. Fenomena ini pernah dicatat oleh Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah dalam bukunya Shaid al-Khatir. Ia melihat bahwa puasa telah menjelma menjadi kebiasaan yang sangat mengakar dalam jiwa umat Islam, hingga sulit ditinggalkan. Meski sebagian orang masih lalai dalam aspek agama lain, puasa Ramadhan tetap dipertahankan dan dijalankan.
Hal senada juga diamati oleh Murad Hofmann, seorang pemikir Jerman yang memeluk Islam. Dalam bukunya Journey to Makkah, ia menyebut bahwa puasa Ramadhan telah menjadi budaya yang kuat, bahkan pada sebagian masyarakat Muslim dijalani lebih sebagai tradisi kolektif daripada kesadaran spiritual penuh. Meski demikian, justru di situlah letak peluang besar keluarga: mengembalikan puasa dari sekadar kebiasaan menjadi kesadaran, dari rutinitas menjadi penghayatan.
Dalam kajian keislaman dan antropologi, ritual atau syi’ar memiliki peran penting dalam membentuk identitas. Ia bukan sekadar simbol, tetapi perwujudan keyakinan. Tidak ada agama tanpa ritual, karena ritual adalah jembatan antara keyakinan dan perilaku. Melalui ritual, manusia membangun hubungan dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama.
Ramadhan dan Pranata Keluarga Harmonis
Di sinilah keluarga memegang peran sentral. Berbagai studi menunjukkan bahwa anak-anak jauh lebih dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Keteladanan orang tua dalam menjalankan ibadah, menjaga akhlak selama Ramadhan, serta mengaitkan puasa dengan perilaku sehari-hari meninggalkan jejak yang sangat dalam di jiwa anak. Ketika anak melihat ayah dan ibu menahan amarah saat berpuasa, menjaga lisan, berbagi dengan tetangga, bangun bersama untuk sahur, membaca Al-Qur’an, peduli dengan sesama, berbagi menu buka, dan melangkah ke masjid untuk tarawih—di situlah nilai bekerja tanpa banyak kata tertanam kuat.
Penelitian bahkan menunjukkan bahwa mayoritas remaja merasakan kebahagiaan dan kedekatan emosional yang lebih kuat ketika menjalankan ritual keagamaan bersama keluarga.
Puasa sendiri adalah ibadah yang sangat komprehensif. Ia bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri, empati, dan kepedulian sosial. Menariknya, berbagai studi modern menunjukkan bahwa puasa justru mendorong perilaku prososial, seperti kedermawanan dan solidaritas. Lapar tidak menjadikan manusia egois, tetapi—dalam konteks Ramadhan—justru melunakkan hati untuk berbagi.
Bagi keluarga, Ramadhan adalah “kamp pelatihan” yang luar biasa. Di dalamnya ada disiplin waktu, penguatan spiritual, pembiasaan akhlak, kebersamaan emosional, hingga latihan sosial melalui sedekah dan kepedulian. Semua ini terjadi secara alami, menyenangkan, dan berulang setiap hari. Sebuah kombinasi ideal dalam pendidikan karakter.
Namun penting untuk diingat, jangan sampai keluarga mereduksi Ramadhan hanya menjadi bulan kuliner, hiburan, dan kebersamaan tanpa arah. Kehangatan tanpa nilai bisa kehilangan makna. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa kelalaian orang tua dalam mendidik anak adalah bentuk kezaliman terbesar. Sementara Syekh Muhammad Al-Ghazali dengan tegas mengkritik keluarga yang berubah fungsi menjadi sekadar “rumah makan”, bukan pusat pembinaan akhlak.
Ramadhan 1447 H sudah di ambang pintu. Ia mengetuk rumah-rumah kita dengan membawa peluang besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita berpuasa, tetapi bagaimana kita memaknai puasa itu di tengah keluarga. Mampukah kita menjadikannya jalan menuju keluarga yang lebih harmonis, saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah, dan semakin peka untuk menebar manfaat bagi sesama?
Jika Ramadhan berhasil kita kelola bersama keluarga, maka ia tidak akan pergi di akhir Syawal. Ia akan tinggal dalam akhlak, kebiasaan, dan nilai—sepanjang tahun, bahkan sepanjang hayat.
Wallahu a’lam
Prof. Dr. KH. Uril Bahruddin, MA
Guru Besar UIN Maliki Malang
Ramadhan dan Pranata Keluarga Harmonis










