Kamis, April 2, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home Kolom Opini

Board of Peace: Proyek Perdamaian Palsu Melembagakan Ketidakadilan

Haidar Bagir by Haidar Bagir
13/02/2026
in Opini
0
0
SHARES
110
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Board of Peace: Proyek Perdamaian Palsu Melembagakan Ketidakadilan

Oleh: Haidar Bagir

Sejak diumumkan, Board of Peace digembar-gemborkan sebagai terobosan besar untuk perdamaian global dan rekonstruksi Gaza. Namun di balik retorika “damai” dan “pembangunan”, Board ini justru memperlihatkan wajah lama politik imperialis: kekuasaan terpusat, hukum internasional disingkirkan, korban konflik dibungkam, dan kepentingan ekonomi dijadikan panglima. Alih-alih menyelesaikan konflik, Board of Peace berpotensi melembagakan ketidakadilan dalam format baru yang lebih rapi dan lebih berbahaya.

Perdamaian palsu

Perdamaian palsu

Masalah paling mendasar dari Board ini adalah upayanya menyingkirkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selama puluhan tahun, PBB—dengan segala kelemahannya—menjadi satu-satunya kerangka multilateral yang memiliki legitimasi hukum internasional dalam urusan perdamaian. Board of Peace justru muncul sebagai mekanisme paralel, bahkan tandingan, yang bekerja di luar Piagam PBB. Ini bukan reformasi; ini adalah delegitimasi. Tak berlebihan jika Board ini disebut sebagai “Mahkamah Kekaisaran”: lembaga global yang tidak dibangun atas konsensus internasional, tetapi atas kehendak satu kekuatan dominan. Fakta bahwa sejumlah negara Eropa memilih menjauh adalah sinyal jelas bahwa dunia membaca bahaya ini dengan serius.

Board of Peace Perdamaian palsu

Lebih problematis lagi, Palestina—khususnya Gaza—hampir sepenuhnya dikeluarkan dari pusat pengambilan keputusan. Board of Peace mengklaim ingin membangun Gaza, tetapi rakyat Gaza sendiri tidak diberi posisi menentukan arah masa depan mereka. Keanggotaan Board diisi negara lain dan pejabat internasional, sementara wakil rakyat Palestina nyaris tak terlihat. Ini bukan perdamaian; ini rekayasa politik dari luar. Gaza diperlakukan sebagai objek proyek, bukan sebagai subjek politik dengan hak menentukan nasib sendiri.

Struktur internal Board memperjelas watak otoriternya. Secara efektif, seluruh kendali berada di tangan Donald Trump. Sebagai chairman, Trump memegang kekuasaan menentukan agenda, arah kebijakan, dan komposisi keanggotaan tanpa pembatasan yang berarti. Dalam struktur seperti ini, bicara tentang akuntabilitas multilateral adalah ilusi. Board of Peace bukan forum kolektif; ia adalah instrumen personal kekuasaan. Ketika satu individu memegang kendali penuh atas lembaga yang mengklaim mengatur perdamaian global, bias hegemonik bukan sekadar kemungkinan—ia adalah keniscayaan.

Carousel Gambar Artikel

Hanya 2 Menit Motor Mahasiswa UB Hilang saat Ditinggal Sembahyang 

Perdamaian palsu

Karena itu pula, akuntabilitas internasional Board of Peace nyaris tidak ada. Tidak ada mekanisme hukum yang memaksa negara lain mematuhi kebijakan Board. Tidak ada keterikatan serius pada hukum internasional sebagaimana Piagam PBB. Kekuasaan dipusatkan, tetapi tanggung jawab dihilangkan. Dunia internasional dipaksa percaya bahwa kehendak satu pemerintahan nasional bisa menggantikan tata kelola global—sebuah preseden yang berbahaya.

Baca JugaArtikel Terkini Lainnya

Bubarkan KPK!

Bubarkan KPK!

24/03/2026
Nuzulul Iqra

Nuzulul Iqra

07/03/2026
Load More

Penolakan atau sikap dingin dari banyak negara besar semakin memperjelas masalah ini. Tidak semua kekuatan utama dunia bersedia bergabung. Banyak yang memilih tetap beroperasi melalui PBB, karena memahami bahwa Board of Peace justru akan memecah, bukan menyatukan, upaya perdamaian global. Fragmentasi ini bukan efek samping; ia adalah konsekuensi langsung dari desain Board yang eksklusif dan sepihak.

Netralitas Board juga runtuh ketika melihat konflik kepentingan Amerika Serikat dengan Israel. Hubungan strategis AS–Israel yang tak tergoyahkan membuat klaim objektivitas Board menjadi sulit dipercaya. Dalam konfigurasi kekuasaan seperti ini, hampir pasti kebijakan Board akan menguntungkan Israel, sementara Palestina kembali dipaksa menanggung biaya politik, teritorial, dan kemanusiaan. Ketimpangan kekuatan ini menghancurkan sisa-sisa kepercayaan terhadap Board sebagai mediator yang adil.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah model pembiayaan Board of Peace. Keanggotaan dan status permanen dikaitkan dengan kontribusi finansial besar. Ini berarti Board bukan lembaga perdamaian universal, melainkan klub elit berbasis setoran. Negara yang tidak mampu atau tidak mau membayar otomatis tersingkir, terlepas dari kepentingan langsung mereka terhadap konflik. Perdamaian dijadikan komoditas; siapa membayar, dia berkuasa.

Dalam konteks Gaza, semua ini mengarah pada satu bahaya besar: komersialisasi penderitaan. Rekonstruksi pascakonflik berpotensi menjadi ladang bisnis raksasa bagi kontraktor internasional. Kekhawatiran ini semakin relevan mengingat peran sentral Jared Kushner, yang sejak lama mendorong pendekatan peace through prosperity. Dalam paradigma ini, keadilan politik dianggap pengganggu stabilitas, sementara investasi dijual sebagai solusi. Gaza direduksi menjadi proyek ekonomi—bukan masyarakat yang hak dan martabatnya harus dipulihkan.

Dengan struktur seperti ini, perdamaian substantif hampir mustahil dicapai. Perdamaian sejati menuntut keadilan, legitimasi hukum, dan keterlibatan langsung rakyat yang terdampak. Board of Peace justru melakukan kebalikannya: mengabaikan PBB, memusatkan kekuasaan, menyingkirkan Palestina, dan membuka ruang eksploitasi ekonomi. Yang dihasilkan bukan perdamaian, melainkan stabilitas semu yang dibangun di atas ketimpangan dan pemaksaan.

Singkatnya, Board of Peace bukan solusi. Ia adalah masalah baru. Dengan kemasan “damai” dan “rekonstruksi”, Board ini berpotensi memperdalam penjajahan politik, melemahkan hukum internasional, dan mengubah penderitaan Gaza menjadi peluang bisnis global. Jika ini yang disebut perdamaian, maka dunia patut curiga: Siapa yang benar-benar didamaikan, dan siapa yang kembali dikorbankan?

Perdamaian palsu


proyek-perdamaian-palsu

Haidar Bagir

Presiden Direktur Mizan Group

Tags: Board of peaceHaidar BagirPerdamaian palsu
Haidar Bagir

Haidar Bagir

Related Posts

Bubarkan KPK!
Opini

Bubarkan KPK!

by Mat Ray
24/03/2026
Nuzulul Iqra
Agama

Nuzulul Iqra

by Mat Ray
07/03/2026
Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan
Opini

Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan

by Nu'man Suhadi
03/03/2026
Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?
Hukum

Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?

by Muhammad Busyrol Fuad
01/03/2026
Momentum Ramadhan Perkuat Pembentukan Karakter Muslim
Agama

Momentum Ramadhan Perkuat Pembentukan Karakter Muslim

by Uril Bahrudin
23/02/2026
Khotmil Qur’an dan Spirit Keseimbangan
Agama

Khotmil Qur’an dan Spirit Keseimbangan

by Uril Bahrudin
22/02/2026
Next Post
Kabupaten di Jawa Timur

Daftar 29 Kabupaten di Jawa Timur: Profil lengkap, Keunikan, dan Potensi Daerah

POPULAR NEWS

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

15/03/2026
Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

02/03/2026
Tetap Sering Padam! Pengelolaan Listrik di Pulau Sapudi Dikritisi Anggota DPRD Sumenep, PLN Tidak Respon

Tetap Sering Padam! Pengelolaan Listrik di Pulau Sapudi Dikritisi Anggota DPRD Sumenep, PLN Tidak Respon

17/03/2026
Kamaruddin Amin, Sekretaris Jenderal Kemenag RI

Kamaruddin Amin, Sekretaris Jenderal Kemenag RI Dituntut Mundur

01/02/2026
KAHMI Rayon Sapudi Akan Laporkan Masalah Pengelolaan Listrik di Pulau Sapudi, DPRD Kabupaten Sumenep: Kami Ultimatum PT PLN (Persero)

KAHMI Rayon Sapudi Akan Laporkan Masalah Pengelolaan Listrik di Pulau Sapudi, DPRD Kabupaten Sumenep: Kami Ultimatum PT PLN (Persero)

21/03/2026

EDITOR'S PICK

Mengenal Maestro Korupsi Pertamax Rasa Pertalite

Mengenal Maestro Korupsi Pertamax Rasa Pertalite

13/03/2025
Ali Mufthi: Dari Aktivis HMI, Kini Nakhoda Baru Partai Golkar Jawa Timur

Ali Mufthi: Dari Aktivis HMI, Kini Nakhoda Baru Partai Golkar Jawa Timur

14/05/2025
Balik Kanan, Prabowo Timbul Tenggelam Bersama Konglomerat, Bukan Bersama Rakyat?

Balik Kanan, Prabowo Timbul Tenggelam Bersama Konglomerat, Bukan Bersama Rakyat?

10/03/2025
Kritik Said Didu: Hadiah Tahun Baru 2025 Dari Pemerintah, Apa Saja?

Kritik Said Didu: Hadiah Tahun Baru 2025 Dari Pemerintah, Apa Saja?

27/12/2024
logo swanews

© 2026 Swa News Indonesia

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
© Swa News | Cepat dan Mencerahkan