Malang, Swa News — Halal Bihalal Keluarga Santri dan Alumni (KESAN) Langitan Widang Tuban wilayah Malang Raya tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum penguatan nilai-nilai perjuangan santri. Dalam mauidhoh hasanahnya, K.H. Ma’sum Faqih menekankan pentingnya peran santri dalam syiar dan dakwah di tengah masyarakat (07/04/2026).

Ia menyampaikan bahwa santri harus mampu menjadi “guru” di mana pun berada. “Dimanapun tempat kamu, jadilah guru. Di pasar jadi gurunya wong pasar, di bangunan jadi gurunya tukang bangunan,” pesannya di hadapan ratusan alumni yang hadir.
Menurutnya, pilihan untuk berkhidmat setelah lulus menjadi jalan penting dalam memperluas jaringan ulama dan kiai. Santri yang mau mengajar, berdakwah, dan bersyiar disebutnya sebagai bagian dari upaya menambah “konco” para ulama.
“Syiar dan dakwah itu harga mati bagi santri-santri Langitan,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya istiqomah dalam menjalankan ubudiah dan amaliah. Menurutnya, konsistensi dalam beribadah dan berdakwah akan membuka banyak pintu kebaikan.
“Terutama istiqomah dalam mensyiarkan agama Allah, itu yang harus dijaga,” imbuhnya.
Pesan KH Ma’sum Faqih untuk Para Alumni
Tak hanya itu, apresiasi juga disampaikan kepada KESAN Malang Raya atas kekompakan dan kerja keras dalam menyukseskan acara Halal Bihalal atau istihlal tersebut. Ia menyebut Pondok Pesantren Langitan sebagai salah satu pondok tertua di Jawa yang memiliki keberkahan besar.
Lebih lanjut, K.H. Ma’sum Faqih mendorong para alumni untuk aktif mewarnai berbagai sektor kehidupan, termasuk di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) hingga dunia politik. Hal ini dinilai penting agar santri dapat menyampaikan aspirasi sekaligus menjadi kontrol terhadap kebijakan publik.

“Alumni harus hadir di semua segmen, termasuk di politik, supaya bisa menjadi kontrol kebijakan di daerah masing-masing,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi dalam menunjang dakwah. Menurutnya, aktivitas syiar tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan finansial yang memadai.
“Dalam berdakwah perlu ditopang finansial yang kuat. Kreativitas ekonomi di kalangan santri harus dihidupkan,” jelasnya.
Di akhir tausiyah, ia kembali menegaskan bahwa tugas utama santri Langitan adalah syiar dan dakwah, tanpa melihat jumlah audiens.
“Inilah kuncinya santri semua. Di mana pun tempatnya, berapa pun orang yang mendengarkan dakwah, tetap harus dijalankan,” pungkasnya. (MJ)

















