Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) secara resmi memfasilitasi pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam perhelatan Festival Kampung Budoyo Ketawanggede #4.
Sebagaimana dilangsir dari laporan resmi Humas UB, kegiatan yang berlangsung di kawasan Jalan Kerto Pamuji hingga Kerto Sentono ini mengusung tema ‘Colorful Urban Culture’ yang mencerminkan keragaman masyarakat di wilayah penyangga kampus tersebut.
Dalam intervensi ekonomi digital ini, FISIP UB melalui Program Kampung Lingkar Kampus (KLK) membantu sedikitnya 90 pelaku UMKM yang sebelumnya belum memiliki akses pembayaran nontunai. Fasilitasi ini memungkinkan para pedagang lokal untuk melayani transaksi digital secara lebih praktis dan modern.
Pihak fakultas menegaskan bahwa penggunaan QRIS ini tidak hanya bersifat sementara selama festival, melainkan dapat terus digunakan oleh para pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar mereka di masa depan.
Selain fokus pada pemberdayaan ekonomi, FISIP UB juga menginisiasi aksi peduli lingkungan melalui program penukaran botol plastik bekas dengan voucher kuliner. Pengunjung diajak mengumpulkan botol plastik kosong yang kemudian dikonversi menjadi poin untuk mendapatkan voucher senilai Rp5.000 hingga Rp10.000.
Voucher tersebut dapat dibelanjakan kembali di gerai-gerai UMKM peserta festival, sehingga menciptakan siklus ekonomi sirkular yang menguntungkan warga sekaligus menjaga kebersihan lingkungan kampung.
Festival ini juga menjadi implementasi dari konsep ‘living laboratory’, di mana kampus tidak hanya menjadi menara gading, tetapi hadir sebagai mitra strategis masyarakat.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa inovasi kampus harus dapat diterapkan dan dirasakan langsung manfaatnya oleh warga. Kami ingin Ketawanggede menjadi ruang tempat pengetahuan dan potensi wilayah berkembang bersama,” tulis laporan tersebut. Acara ini turut dimeriahkan dengan pertunjukan budaya, pasar rakyat, hingga deklarasi wilayah aman bagi perempuan dan anak.


















