Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News– Langkah Tim Nasional Kroasia di Piala Dunia 2026 akhirnya harus terhenti di babak 32 besar setelah ditumbangkan Portugal dengan skor ketat 1-2 di Stadion Toronto, Jumat (3/7/2026). Kegagalan ini tidak hanya menyisakan duka bagi skuad Vatreni, melainkan juga menandai akhir dari era salah satu pesepak bola paling ikonik dalam sejarah modern, Luka Modric.

Tersingkirnya Kroasia lewat gol dramatis di masa injury time mengemas sebuah ironi dan fakta mendalam mengenai sang kapten, maestro lini tengah yang kesetiaannya melampaui usia kedaulatan negaranya sendiri.
Baca juga: Pecah Telur di Toronto, Akhirnya Ronaldo Runtuhkan Tembok Kutukan 20 Tahun
Berikut adalah fakta menarik dan sisi melankolis di balik gugurnya Kroasia di Piala Dunia 2026:
1. Luka Modric: Manusia yang Lebih Tua dari Negara Kroasia
Fakta paling mencengangkan dari sosok Luka Modric adalah aspek historisnya. Modric lahir pada 9 September 1985 di Zadar. Sementara itu, Republik Kroasia baru resmi mendeklarasikan kemerdekaan dan diakui secara internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 22 Mei 1992 setelah pecahnya Yugoslavia.
-
Makna Historis: Secara harfiah, Luka Modric berusia hampir tujuh tahun lebih tua daripada umur kedaulatan resmi negara yang dibelanya di lapangan hijau. Ia tumbuh di tengah berkecamuknya perang kemerdekaan sebelum akhirnya memimpin generasi emas sepak bola Kroasia ke puncak dunia.
2. Akhir dari Generasi Emas Korban Drama VAR
Kekalahan dari Portugal terasa sangat menyakitkan karena organisasi permainan Kroasia sebenarnya mampu merepotkan lini serang Portugal sejak awal laga. Setelah unggul melalui gol Ivan Perisic di menit ke-53, Kroasia harus menerima kenyataan gawangnya dibobol oleh penalti Cristiano Ronaldo dan sundulan Goncalo Ramos di menit ke-90+13.
Kekecewaan skuad asuhan Zlatko Dalic semakin memuncak setelah teknologi Video Assistant Referee (VAR) menganulir gol penyeimbang Kroasia di detik-detik akhir pertandingan, yang sempat memicu protes keras dari para suporter di tribun stadion.
3. Senjakala Skuad dengan Rataan Umur Senior
Gugurnya Kroasia di babak 32 besar ini sekaligus menegaskan tantangan regenerasi yang dihadapi oleh tim berjuluk Vatreni tersebut. Kroasia melaju ke Piala Dunia 2026 dengan tetap mengandalkan tulang punggung veteran dari edisi 2018 dan 2022, seperti Luka Modric (40 tahun) dan Ivan Perisic (37 tahun). Intensitas tinggi dan jadwal padat di turnamen sebesar Piala Dunia akhirnya menjadi ujian fisik yang berat bagi kedalaman skuad senior ini saat menghadapi transisi cepat tim-tim dinamis seperti Portugal.
4. Warisan Abadi sang Maestro
Meskipun harus menyudahi mimpi di Kanada dengan kepala tertunduk, warisan Luka Modric untuk sepak bola Kroasia tetap tidak tergoyahkan. Membawa negara kecil berpenduduk sekitar 4 juta jiwa menjadi runner-up Piala Dunia 2018 dan meraih peringkat ketiga di Piala Dunia 2022 adalah dongeng sepak bola yang hampir mustahil diulang. Piala Dunia 2026 ini diyakini menjadi panggung sirkus terakhir bagi sang penyihir lini tengah sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada generasi baru. (ARD)
Penulis: Ardian F. R
Editor: Redaksi

















