Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Swa News, – Partai final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, New Jersey, menjadi panggung pementasan dua era sepak bola yang bertolak belakang secara dramatis. Di satu sisi, laga ini menjadi saksi akhir perjalanan pahlawan veteran Argentina, Lionel Messi (39 tahun).
Di sisi lain, dunia menyaksikan terbitnya fajar kejayaan duo remaja Spanyol, Lamine Yamal dan Pau Cubarsi, yang sama-sama masih berusia 19 tahun.
Tampil di final ketiganya sepanjang karier internasional (2014, 2022, dan 2026), Messi mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai pemain lapangan (outfield player) tertua yang bertanding di babak puncak Piala Dunia pada usia 39 tahun 25 hari.
Rekor ini mematahkan rekor lama milik legenda Swedia, Gunnar Gren, yang bertanding di final 1958 pada usia 37 tahun 241 hari. Messi juga menyamai rekor Cafu dari Brasil sebagai pemain yang berhasil menginjakkan kaki di tiga partai final Piala Dunia yang berbeda.
Namun, keberadaan Messi di lapangan kali ini tak lagi diwarnai kelincahan masa muda, melainkan diisi perjuangan keras di tengah minimnya sokongan tim. Menghadapi garis pertahanan Spanyol yang dipimpin secara dingin oleh Pau Cubarsi, Messi kesulitan menemukan ruang gerak.
Sepanjang 90 menit waktu normal, dominasi penguasaan bola Spanyol membuat Argentina gagal melepaskan satu pun tembakan, memaksa sang kapten turun jauh hingga ke area pertahanan sendiri untuk sekadar mendapatkan sentuhan bola.
Dominasi Remaja: Cubarsi dan Yamal Menyejajarkan Diri dengan Pelé
Sementara Messi berjuang melawan keterbatasan fisik dan isolasi taktis, dua pilar muda Spanyol justru tampil lepas memimpin La Roja meraih trofi dunia kedua mereka.
Pau Cubarsi dan Lamine Yamal resmi mengukir sejarah sebagai remaja (teenager) keempat dan kelima yang sukses memenangkan trofi Piala Dunia. Catatan ini menyejajarkan nama mereka dengan deretan ikon sepak bola sejagat: Pelé (17 tahun pada 1958), Giuseppe Bergomi (18 tahun pada 1982), dan Kylian Mbappé (19 tahun pada 2018).
Peran Cubarsi di lini belakang Spanyol terbukti sangat vital. Bek tengah muda Barcelona ini menjadi benteng kokoh yang menggagalkan setiap upaya transisi Argentina, sekaligus membantu serangan dari garis pertama (ball-playing defender). Ketenangannya mengawal pertahanan yang hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen menghantarkannya meraih penghargaan resmi FIFA Young Player Award.
Di lini depan, Lamine Yamal menjadi momok menakutkan bagi lini pertahanan Argentina. Sejak menit ke-5, ketika tembakan mendatarnya memaksa Emiliano Martinez melakukan penyelamatan krusial, Yamal terus meneror sisi kiri pertahanan lawan lewat kombinasinya bersama Dani Olmo.
Pada menit ke-67, kreasinya kembali memanjakan Ferran Torres melalui umpan silang matang, sebelum akhirnya sepakan tendangan bebas terbangnya di penghujung babak kedua hampir saja mengunci kemenangan lebih awal.
Puncak pergeseran era ini makin kentara saat memasuki babak perpanjangan waktu. Ketika Messi dan barisan pemain veteran Argentina mulai kehabisan stamina terutama setelah kehilangan Enzo Fernandez akibat kartu merah, kesegaran fisik dan kecepatan berpikir para pemain muda Spanyol menjadi pembeda mutlak. Gol Ferran Torres di menit ke-106 merupakan buah dari tekanan gelombang serangan anak-anak muda Spanyol yang tak berhenti berhembus.
Penulis: Ardian FR
Editor: Imam Abu Hanifah

















