Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News– Kegagalan Portugal melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2026 langsung mengarahkan telunjuk tudingan kepada sang manajer, Roberto Martinez. Pelatih asal Spanyol itu dinilai kembali mengulangi “dosa” masa lalunya ketika gagal memaksimalkan potensi skuad bertabur bintang. Mirip saat menangani generasi emas Timnas Belgia yang berakhir tanpa gelar major.

Ironisnya, di saat yang sama mantan tim asuhannya, Belgia, baru saja lolos ke perempat final. Usai membantai Amerika Serikat 4-1 di Seattle. Roberto Martinez justru harus pulang lebih awal bersama Portugal. Padahal di atas kertas, Squad Portugal edisi 2026 dibekali komposisi lini tengah terkuat, termewah, dan paling kreatif di dunia.
Roberto Martinez Dibekali Lini Tengah Mewah tetapi Mati Kutu
Di bawah arahan Martinez, sebenarnya Portugal memiliki dinamo kreativitas dalam diri Joao Neves dan Vitinha. Duo gelandang jangkar muda yang baru merengkuh trofi juara Liga Champions bersama Paris Saint-Germain (PSG).
Sektor penyerangan mereka juga disokong penuh oleh Bruno Fernandes, jenderal lapangan tengah yang di level klub terbukti mampu menggendong Manchester United sendirian.
Namun, di hadapan kedisiplinan taktis Spanyol asuhan Luis De La Fuente, kemewahan lini tengah Portugal justru bermain terlalu berhati-hati dan minim determinasi. Alih-alih membongkar pertahanan lawan, taktik Martinez malah membuat Spanyol nyaman mencatatkan rekor gila sebagai tim pertama dalam sejarah yang mengemas enam clean sheet secara beruntun di Piala Dunia.
Portugal akhirnya dihukum tunai oleh gol telat Mikel Merino di menit ke-90+1. Meski usai laga Martinez pasang badan dan memberikan pembelaan di depan media, kekalahan ini mempertegas satu hal: di tangan Martinez, generasi emas sedahsyat apa pun tetap rentan berakhir antiklimaks. (ARD)
Penulis: Ardian F. R
Editor: M. Munif

















