SWANEWS – Profil Kabupaten Bangkalan memperlihatkan secara jelas bahwa wilayah ini adalah pintu gerbang masuk menuju Pulau Madura karena terletak di ujung paling barat dan paling dekat dengan Surabaya melalui Jembatan Suramadu.
Secara geografis, Bangkalan berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur, serta Selat Madura di selatan dan barat.
Wilayahnya didominasi oleh dataran rendah pesisir dengan ketinggian antara 2 hingga 100 meter di atas permukaan laut. Ibu kota kabupaten ini adalah Kecamatan Bangkalan.
Secara historis, Pelabuhan Kamal telah lama menjadi pintu gerbang utama yang menghubungkan Madura dengan Surabaya, menggunakan layanan kapal feri dari Pelabuhan Ujung.
Sejak beroperasinya Jembatan Suramadu—jembatan terpanjang di Indonesia—aksesibilitas Bangkalan semakin meningkat.
Kabupaten ini masuk dalam kawasan metropolitan Surabaya, yang dikenal sebagai Gerbangkertosusila, dan jaraknya yang sangat dekat dengan Surabaya memungkinkan waktu tempuh hanya sekitar 10 hingga 30 menit.
Sejarah Panjang dan Asal Usul Nama Bangkalan
Bangkalan resmi menjadi kabupaten di Jawa Timur pada tanggal 8 Agustus 1950, berdasarkan UU No. 12/1950. Namun, hari jadi Kabupaten Bangkalan ditetapkan pada 24 Oktober 1531, yang berarti usianya telah mencapai 494 tahun.
Nama “Bangkalan” berasal dari perpaduan kata majemuk dalam bahasa Madura: “bangkah” dan “la’an”, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai “mati sudah.”
Istilah ini diambil dari sebuah legenda rakyat setempat yang menceritakan tewasnya Ki Lesap, seorang pemberontak sakti di wilayah Madura Barat. Konon, lokasi tewasnya Ki Lesap inilah yang kemudian menjadi cikal bakal penamaan Bangkalan.
Pengaruh Kerajaan Jawa dan Masa Pemerintahan Arosbaya di Bangkalan
Jauh sebelum Islam menjadi agama mayoritas, wilayah Madura Barat, termasuk Bangkalan, telah berada di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar di Jawa seperti Singasari dan Majapahit.
Penemuan arkeologis bernapaskan Hindu dan Buddha, seperti lingga dengan inskripsi angka tahun Saka 1301 (1379 M) di Desa Kemoning, memperkuat dugaan ini.
Sejarah pemerintahan di Bangkalan dimulai pada tahun 1531 dengan berdirinya Kerajaan Madura Barat pertama, yang memusatkan pemerintahannya di Keraton Arosbaya.
Raja pertamanya adalah Panembahan Lemahdoewoer (Kiai Pratanu), yang memerintah hingga tahun 1592. Beliau dikenal sebagai penguasa Islam pertama di Madura Barat, keturunan dari Lembu Peteng (putra Majapahit) dan juga merupakan santri dari Sunan Ampel.
Pemerintahan di Arosbaya berlanjut selama beberapa generasi, termasuk Pangeran Tengah (Raden Koro), Pangeran Mas, hingga Raden Prasmo yang bergelar Pangeran Cakraningrat I.
Dinasti Cakraningrat inilah yang berkuasa selama berabad-abad dan memindahkan pusat pemerintahan ke berbagai tempat sebelum akhirnya menetap di Bangkalan kota saat ini.
Dinasti ini menghadapi interaksi yang kompleks dengan kekuatan kolonial Belanda (VOC/Hindia Belanda), di mana penguasa-penguasa seperti Pangeran Cakraningrat II, III, IV, dan seterusnya memerintah di bawah bayang-bayang pengaruh kolonial hingga masa Sultan Abdul Kadirun pada abad ke-19.
Luas Wilayah Kabupaten Bangkalan dan Kondisi Geografisnya
Secara eksistensial, Kabupaten Bangkalan berada di kawasan Pulau Madura dengan titik koordinat pada posisi 112°40’06″–113°08’04” Bujur Timur dan 6°51’39″–7°11’39” Lintang Selatan.
Luas wilayah kabupaten Bangkalan secara keseluruhan mencapai 1.260,14 km². Kondisi cuaca di wilayah Bangkalan menunjukkan suhu udara yang berkisar antara 22°–34°C. Tingkat kelembapan relatif di daerah ini bervariasi, berada di antara 68%–83%.
Demografi Penduduk Kabupaten Bangkalan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangkalan menunjukkan bahwa populasi Kabupaten Bangkalan per 30 Juni 2024 mencapai total 1.024.581 jiwa, dengan komposisi 504.176 laki-laki dan 520.405 perempuan.
Dengan luas wilayah yang ada, kepadatan penduduknya mencapai sekitar 790 jiwa per km². Mayoritas penduduk secara dominan bekerja di sektor primer, yaitu pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan.
Masyarakat Bangkalan memiliki tradisi keagamaan yang sangat kuat, dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam (99,51%).
Sebagian kecil lainnya memeluk Kristen (0,46%, terbagi atas Protestan 0,32% dan Katolik 0,14%), Buddha (0,01%), Hindu (0,01%), dan Konghucu (0,01%). Bahasa Madura menjadi bahasa yang dominan digunakan dalam komunikasi sehari-hari, di samping Bahasa Indonesia (resmi) dan Bahasa Jawa.
Kecamatan dan Desa di Kabupaten Bangkalan
Kabupaten Bangkalan secara administratif terbagi menjadi 18 kecamatan. Jumlah ini didukung oleh 8 kelurahan dan 273 desa.
Berikut adalah daftar kecamatan yang membentuk Kabupaten Bangkalan:
- Bangkalan
- Arosbaya
- Geger
- Sepulu
- Tanjungbumi
- Kokop
- Konang
- Galis
- Blega
- Modung
- Kwanyar
- Labang
- Kamal
- Socah
- Burneh
- Tanah Merah
- Tragah
- Grogol
Kekayaan Wisata di Kabupaten Bangkalan
Bangkalan memiliki sejumlah lokasi wisata yang terbagi dalam beberapa kategori, yaitu Wisata Alam, Wisata Religi, Wisata Sejarah, serta Wisata Kuliner dan Keluarga. Sektor kuliner di Bangkalan semakin terkenal sejak diresmikannya Jembatan Suramadu.
Wisata Religi dan Sejarah
Tradisi keagamaan yang kuat di Bangkalan tercermin dari banyaknya lokasi wisata religi yang ramai dikunjungi, antara lain:
- Makam Bujuk Cendana di Kwanyar
- Makam Sunan Bangkalan/Raden Jakandar
- Astana Sultan Kadirun dan Raja-Raja
- Asta Aermata, pasarean para raja-raja Agung Madura, yang juga merupakan Benda Cagar Budaya.
- Makam Syaikhona Muhammad Kholil di Martajasah, Bangkalan.
Adapun wisata sejarah yang menunjukkan peran penting Bangkalan di masa lampau meliputi:
- Makam raja-raja Bangkalan di Aermata Arosbaya
- Benteng ERFPRINS
- Mercusuar Sembilangan
- Benteng Tjakraningrat IV Tanjoeng Piring
- Museum Cakraningrat
Wisata Alam dan Pesona Pantai
Wisata alam di Bangkalan menawarkan pesona alam yang menarik, seperti:
- Sumber Mata Air/Pemandian Bening di Kecamatan Modung
- Bukit Geger
- Pantai Siring Kemuning di desa Macajah, Tanjungbumi
- Pantai Rongkang
- Pantai Basmalah
- Pantai Maneron
Kuliner Ikonik Khas Kabupaten Bangkalan
Bangkalan menawarkan beragam kuliner khas yang terkenal. Bebek Sinjay dan Tajin Sobih adalah dua kuliner yang paling ikonik. Berikut ini daftar kuliner khas Bangkalan yang wajib dicoba.
Makanan Berat yang Populer di Bangkalan
- Bebek Sinjay: Bebek goreng empuk dengan kulit renyah ini tersaji bersama nasi hangat dan sambal mangga muda (sambal pencit) yang pedas segar.
- Nasi Serpang: Nasi campur khas Madura ini memiliki lauk yang beragam, seperti daging sapi bumbu, paru goreng, usus, dan telur petis.
- Soto Mata Sapi: Hidangan unik yang berisi soto dengan kuah merah yang disajikan dengan mata sapi.
- Topak Ladeh: Makanan khas yang biasanya disajikan saat Lebaran ketupat, berupa ketupat yang disiram kuah santan dengan potongan daging sapi.
Jajanan dan Oleh-Oleh dari Kabupaten Bangkalan
- Tajin Sobih: Jajanan tradisional ini terbuat dari tepung ketan yang disiram dengan gula merah dan santan, menawarkan rasa manis dan gurih.
- Kue Cetter: Terbuat dari tepung beras dan ketan, disiram dengan saus gula merah yang serupa dengan Tajin Sobih.
- Sewel Socah dan Bongko Arosbaya adalah kue khas daerah masing-masing.
- Petis Madura (bumbu olahan ikan/udang) dan Teri Krispi (camilan renyah) sering menjadi pilihan oleh-oleh.
Tokoh Penting Bangkalan dan Julukan “Bumi Dzikir dan Sholawat”
Kabupaten Bangkalan melahirkan banyak tokoh penting, terutama dari kalangan ulama dan bangsawan yang membentuk sejarah Madura:
- Syaikhona Mohammad Kholil (Mbah Kholil): Beliau adalah ulama besar dan guru dari para kiai terkemuka di Indonesia, termasuk pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Hasyim Asy’ari. Pengaruhnya dalam penyebaran Islam dan perjuangan kemerdekaan sangat besar. Syaikhona Kholil kini resmi bergelar Pahlawan Nasional.
- Panembahan Lemahdoewoer (Kiai Pratanu): Raja pertama Kerajaan Madura Barat dan penguasa Islam pertama di wilayah tersebut pada tahun 1531-1592.
- Pangeran Cakraningrat I hingga Sultan Abdul Kadirun: Dinasti yang berkuasa selama berabad-abad dan berperan penting dalam sejarah politik Madura.
- Raden Trunajaya: Bangsawan Madura yang memimpin pemberontakan besar melawan Kesultanan Mataram dan VOC pada abad ke-17.
Kini, tradisi keagamaan masyarakatnya yang kuat dan keberadaan ulama besar, seperti Syaikhona Kholil, membuat Kabupaten Bangkalan dikenal sebagai “Bumi Dzikir dan Sholawat”.
Perannya sebagai pintu gerbang utama Pulau Madura yang terhubung langsung dengan Surabaya melalui Jembatan Suramadu terus menegaskan posisi strategisnya dalam pembangunan regional.
Masyarakat Bangkalan secara kolektif menjaga kekayaan historis dan budaya yang terkandung dalam setiap sudut wilayah, menjadikan Profil Kabupaten Bangkalan sebagai representasi lengkap kekayaan dan potensi Madura.










