SWANEWS – Profil Kabupaten Banyuwangi memancarkan aura istimewa sebagai daerah terluas di Jawa Timur, menjadikannya gerbang utama menuju Pulau Bali.
Kabupaten yang terletak di kawasan Tapal Kuda ini tidak hanya memiliki wilayah yang membentang luas, tetapi juga menyimpan sejarah perlawanan heroik rakyat Blambangan melawan VOC yang kini diperingati sebagai Hari Jadi.
Keunikan Banyuwangi semakin terlihat dari kekayaan budaya Suku Osing yang otentik, serta keberadaan ikon wisata kelas dunia seperti Kawah Ijen dengan blue fire-nya dan Taman Nasional Alas Purwo.
Sekilas Profil Kabupaten Banyuwangi
Banyuwangi, yang beribukota di Kecamatan Banyuwangi, merupakan daerah yang kaya akan potensi alam dan budaya, mengukuhkan posisinya sebagai “The Sunrise of Java.”
Wilayah ini menampung rangkaian Dataran Tinggi Ijen dengan gunung api aktif seperti Raung, sekaligus memiliki garis pantai yang panjang menghadap Selat Bali dan Samudra Hindia.
Keanekaragaman topografi ini menjadikan Banyuwangi sebagai rumah bagi beragam flora dan fauna resmi, seperti Bambu Manggong dan Penyu Abu-abu.
Melalui penelusuran historiografi, geografis, serta kearifan lokal Suku Osing, pembaca akan memahami secara mendalam Profil Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu daerah paling dinamis dan berkarakter di Indonesia.
Luas Wilayah dan Kondisi Geografis Kabupaten Banyuwangi
Profil Kabupaten Banyuwangi menunjukkan lokasinya yang sangat strategis, menjadikannya ujung timur Pulau Jawa di kawasan Tapal Kuda. Ibu kota kabupaten berada di Kecamatan Banyuwangi.
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur, bahkan menjadi kabupaten terluas nomor tiga di seluruh Pulau Jawa. Luas totalnya mencapai 3.593,06 km2. Wilayah ini berbatasan langsung dengan:
- Utara: Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Bondowoso.
- Timur: Selat Bali dan Provinsi Bali.
- Selatan: Samudra Hindia.
- Barat: Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso.
Di pesisir timur Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang berfungsi sebagai penghubung utama dan vital antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Kehadiran pelabuhan ini menempatkan Banyuwangi sebagai gerbang timur Jawa yang ramai.
Jejak Sejarah Heroik Kerajaan Blambangan di Banyuwangi
Sejarah Banyuwangi tidak terlepas dari kisah heroik Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan bagian integral dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Kangjeng Suhunan Prabu Tawang Alun.
Sejak tahun 1743, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mulai mengklaim Blambangan sebagai wilayah kekuasaannya. Klaim sepihak ini didasarkan pada Perjanjian Ponorogo. Dalam perjanjian tersebut, Pakubuwono II menyerahkan kekuasaan Kartasura di Jawa bagian timur (termasuk Blambangan) kepada VOC.
Namun, klaim ini tidak sah, sebab Blambangan di bawah Kangjeng Suhunan Prabu Tawangalun telah menyatakan kemerdekaannya pada 23 Februari 1653, dan Kesultanan Mataram Islam tidak pernah berhasil menundukkannya kembali.
Banyak prajurit Mataram Islam yang lari ke selatan Banyuwangi dan menikah dengan penduduk lokal, menguatkan basis perlawanan lokal.
Perang Puputan Bayu dan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi
VOC baru benar-benar mencoba menancapkan kekuasaannya secara penuh pada akhir abad ke-18 setelah Perusahaan Hindia Timur Britania mulai menjalin hubungan dagang dengan Blambangan. Upaya VOC ini menyulut perang besar selama lima tahun, berlangsung dari 1767 hingga 1772, bahkan berlanjut sporadis hingga 1777.
Dalam rangkaian peperangan besar tersebut, terjadi salah satu pertempuran dahsyat yang dikenal sebagai Perang Puputan Bayu. Perang ini merupakan puncak perlawanan rakyat Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu kolonial VOC.
- Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 Desember 1771.
- Tanggal 18 Desember 1771 inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi.
Meskipun Perang Puputan Bayu tidak dikenal luas dalam sejarah perjuangan nasional melawan Belanda, kemenangan VOC dalam perang ini mengakhiri kekuasaan Kerajaan Blambangan. VOC mengangkat R.
Wiroguno I (Mas Alit) sebagai Bupati Banyuwangi pertama. Namun, perlawanan sporadis rakyat Blambangan terus terjadi, ditunjukkan dengan tidak adanya pabrik gula yang dibangun VOC di Banyuwangi, berbeda dengan kabupaten lain di Jawa Timur.
Pembentukan Kabupaten Banyuwangi secara resmi berdasarkan dasar hukum UU No. 12/1950 dan ditetapkan pada 8 Agustus 1950.
Topografi dan Kawasan Konservasi di Banyuwangi
Wilayah Banyuwangi memiliki topografi yang sangat beragam, mencakup dataran rendah hingga kawasan pegunungan.
Rangkaian Pegunungan dan Kawah Ijen
Di kawasan perbatasan dengan Bondowoso, membentang rangkaian Dataran Tinggi Ijen. Kawasan ini memiliki puncak-puncak gunung api aktif, yaitu Gunung Raung (3.344 m) dan Gunung Merapi (2.799 m).
Di balik Gunung Merapi, terdapat Gunung Ijen yang terkenal di dunia dengan fenomena kawah ijen yang unik dan panorama blue fire.

Secara keseluruhan, Kabupaten Banyuwangi terletak pada ketinggian 0 hingga 2.500 meter di atas permukaan laut. Tingkat kelerengan wilayah ini beragam:
- Tingkat kelerengan 0-2% dapat dijumpai di seluruh kecamatan.
- Tingkat kelerengan lebih dari 40% banyak terdapat di sebagian besar wilayah, kecuali di kecamatan-kecamatan padat seperti Purwoharjo, Muncar, Cluring, Gambiran, Genteng, Srono, Rogojampi, Kabat, Singojuruh, Giri, Sempu, dan Banyuwangi.
Kawasan Konservasi di Banyuwangi
Bagian selatan Banyuwangi, yang berbatasan dengan Kabupaten Jember, merupakan kawasan konservasi yang dilindungi, yaitu Taman Nasional Meru Betiri. Di kawasan ini terdapat Pantai Sukamade, yang terkenal sebagai lokasi penangkaran penyu.
Di Semenanjung Blambangan juga terdapat cagar alam penting, yaitu Taman Nasional Alas Purwo, yang menawarkan keanekaragaman hayati unik di ujung timur Jawa.
Sementara itu, pantai timur Banyuwangi yang menghadap Selat Bali dikenal sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Pusat perikanan besar berada di Pelabuhan Perikanan Muncar, Kecamatan Muncar.
Demografi Penduduk dan Suku di Banyuwangi
Kabupaten Banyuwangi dihuni oleh populasi yang beragam, dengan komposisi unik yang membentuk identitas budayanya.
Populasi dan Agama Masyarakat Banyuwangi
Populasi total Kabupaten Banyuwangi per 30 Juni 2024 mencapai 1.785.316 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 500 jiwa per km².
Mayoritas penduduk memeluk agama Islam (96,94%).
Kelompok agama lain yang signifikan meliputi Hindu (1,53%) dan Kristen (1,30%)—dengan Protestan 1,03% dan Katolik 0,27%. Selain itu, terdapat penganut Buddha (0,22%) dan Kepercayaan (0,01%). Adanya komunitas Hindu yang signifikan ini dipengaruhi oleh kedekatan budaya dengan Bali.
Keragaman Suku di Banyuwangi
Penduduk Banyuwangi terdiri dari beragam suku bangsa:
- Suku Osing: Merupakan penduduk asli Kabupaten Banyuwangi dan menjadi kelompok mayoritas. Suku Osing sering dianggap sebagai subsuku Jawa yang banyak dipengaruhi oleh budaya Bali. Mereka menggunakan Bahasa Osing, yang dikenal sebagai salah satu ragam tertua Bahasa Jawa dan memiliki diftongisasi khusus yang tidak ditemukan di dialek Jawa maupun Bali. Suku Osing mayoritas mendiami kecamatan seperti Kalipuro, Banyuwangi, Glagah, Licin, Kabat, dan Rogojampi.
- Suku Jawa Mataraman dan Arekan: Kelompok ini signifikan di bagian selatan wilayah.
- Suku Madura: Mereka mendiami kecamatan-kecamatan di utara seperti Glenmore, Kalibaru, Kalipuro, Muncar, dan Wongsorejo.
- Suku Bali: Kelompok minoritas ini banyak mendiami sebagian desa di Kecamatan Blimbingsari. Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari bahkan dijuluki sebagai “Miniatur Pulau Bali” karena suasana perdesaan yang kental dengan nuansa Bali.
- Suku Mandar dan Bugis: Kelompok minoritas lain yang juga ditemukan di wilayah ini.
Pembagian Administratif Kecamatan di Banyuwangi
Kabupaten Banyuwangi terbagi menjadi 25 kecamatan, 28 kelurahan dan 189 desa. Pusat pemerintahan dan keramaian terbagi di beberapa kecamatan, yaitu Banyuwangi (sebagai ibu kota), Glagah, Giri, dan Kalipuro.
Terdapat juga kecamatan baru hasil pemekaran seperti Jambewangi dan Blimbingsari, yang terakhir menjadi lokasi Bandara Banyuwangi. Berikut ini daftar lengkap kecamatan di Banyuwangi.
- Pesanggaran
- Bangorejo
- Purwoharjo
- Tegaldlimo
- Muncar
- Cluring
- Gambiran
- Srono
- Genteng
- Glenmore
- Kalibaru
- Singojuruh
- Rogojampi
- Kabat
- Glagah
- Banyuwangi
- Giri
- Wongsorejo
- Songgon
- Sempu
- Kalipuro
- Siliragung
- Tegalsari
- Licin
- Blimbingsari
Kekayaan Wisata dan Kuliner Khas Banyuwangi
Banyuwangi telah memantapkan diri sebagai destinasi pariwisata unggulan, menawarkan keindahan alam, peninggalan sejarah, dan kearifan desa.
Wisata Alam di Banyuwangi
Banyuwangi dijuluki Sunrise of Java karena keindahan alamnya yang luar biasa:
- Kawah Ijen: Destinasi primadona dengan fenomena blue fire yang langka di dunia, serta danau kawah asam berwarna toska.
- Pantai Plengkung (G-Land): Terkenal di kalangan peselancar dunia karena ombaknya yang besar dan berbentuk tabung.
- Pantai Pulau Merah: Menyajikan pulau kecil berwarna kemerahan yang dapat dijangkau saat air surut, populer untuk berselancar pemula.
- Teluk Hijau (Green Bay): Pantai tersembunyi dengan pasir putih dan air laut berwarna hijau jernih.
- Taman Nasional Alas Purwo dan Meru Betiri: Kawasan konservasi yang menawarkan Savanna Sadengan dan Pantai Sukamade sebagai habitat penyu.
- Hutan De Djawatan: Hutan dengan pohon trembesi tua yang rindang, menciptakan suasana seperti hutan fantasi.
Wisata Sejarah dan Budaya di Banyuwangi
Kekayaan sejarah Banyuwangi tersimpan di:
- Museum Blambangan: Menyimpan koleksi sejarah peradaban Banyuwangi dan Kerajaan Blambangan.
- Situs Prabu Tawang Alun dan Situs Rawa Bayu: Peninggalan sejarah yang berkaitan dengan era Blambangan dan Perang Puputan Bayu.
- Desa Kemiren: Desa yang menjadi jantung budaya Suku Osing, tempat adat istiadat dan kesenian masih sangat terjaga.
- Desa Patoman: Dikenal sebagai “Miniatur Pulau Bali” karena adat dan suasana perdesaan yang menyerupai Pulau Dewata.
Kuliner Khas Banyuwangi yang Melegenda
Kuliner Banyuwangi terkenal dengan cita rasa yang berani dan unik, memadukan kekayaan rempah lokal:
- Sego Tempong (Nasi Tempong): Hidangan nasi dengan lauk sederhana (ikan asin, tahu, tempe) dan sayuran rebus, yang paling khas adalah sambal mentah super pedasnya—sensasi pedasnya seolah “menampar” lidah.
- Rujak Soto: Perpaduan ekstrem antara rujak (sayur, buah, bumbu petis) yang disiram dengan kuah soto daging sapi atau ayam yang hangat dan gurih.
- Sego Cawuk (Nasi Cawuk): Nasi yang disajikan dengan kuah pindang kaya rempah, sering dilengkapi dengan serutan jagung bakar berbumbu.
- Pecel Pitik: Kuliner sakral Suku Osing berupa ayam kampung panggang yang disuwir dan dicampur dengan parutan kelapa muda berbumbu.
- Botok Tawon: Botok unik yang terbuat dari sarang dan larva lebah (tawon), memberikan sensasi tersendiri saat dinikmati.
Dari kearifan lokal Suku Osing, kisah heroik Perang Puputan Bayu, hingga keajaiban alam Kawah Ijen, seluruh elemen ini membentuk Profil Kabupaten Banyuwangi sebagai daerah yang tidak hanya luas secara geografis, tetapi juga kaya secara historis dan kultural.










