Tapanuli, Swa News– Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera turut memicu sorotan media internasional menyusul kabar matinya orangutan Tapanuli, salah satu spesies kera besar paling langka di dunia. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius akan semakin terancamnya kelangsungan hidup satwa endemik tersebut.

Salah satu media asing yang mengangkat isu ini adalah BBC melalui artikel berjudul “Fears grow that world’s rarest apes were swept away in Sumatran floods” yang terbit Sabtu (13/12/2025). Dalam laporannya, BBC mengutip hasil wawancara dengan tim kemanusiaan, pakar konservasi, serta ahli biologi yang terlibat langsung di lokasi terdampak bencana.
Disebutkan, sejak Topan Senyar menerjang Sumatera pada 25 November 2025, keberadaan orangutan Tapanuli di sejumlah wilayah terdampak tidak lagi terpantau. BBC juga menyoroti penemuan bangkai satwa yang diyakini sebagai orangutan di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, oleh para relawan kemanusiaan.
Bangkai tersebut ditemukan dalam kondisi setengah terkubur lumpur bercampur kayu gelondongan yang diduga kuat terseret banjir dan longsor. Dokumentasi foto temuan itu kemudian diverifikasi oleh para ahli konservasi dan dinyatakan sebagai orangutan.
Salah satu pekerja kemanusiaan di Tapanuli, Deckey Chandra, yang sebelumnya berkecimpung di bidang konservasi orangutan Tapanuli, mengaku sempat ragu saat pertama kali melihat temuan tersebut.
“Awalnya saya tidak yakin itu apa, karena kondisinya sudah rusak, kemungkinan akibat tertimbun lumpur dan kayu,” ujar Chandra, seperti dikutip BBC. Ia menambahkan, selama beberapa hari terakhir dirinya banyak menemukan korban manusia, namun bangkai satwa liar tersebut merupakan yang pertama. “Biasanya mereka datang ke area ini untuk makan buah. Sekarang tempat itu justru tampak menjadi kuburan,” katanya.
Populasi orangutan Tapanuli sendiri diperkirakan kurang dari 800 individu. Para ahli menegaskan, kematian satu ekor saja dapat memberi dampak signifikan terhadap kelangsungan spesies ini.
Orangutan Tapanuli baru diidentifikasi sebagai spesies tersendiri pada 2017, berbeda dari dua spesies lainnya, yakni orangutan Kalimantan dan orangutan Sumatera.
Kerusakan hutan ribuan hektare
Ahli biologi sekaligus Direktur Pelaksana Borneo Futures di Brunei, Profesor Erik Meijaard, mengaku terkejut melihat foto bangkai orangutan tersebut. Ia menyoroti kondisi wajah satwa yang rusak parah. Menurutnya, longsor dalam skala besar membuat orangutan tidak memiliki peluang untuk bertahan.
“Jika hutan seluas beberapa hektare runtuh sekaligus, bahkan orangutan yang kuat pun tidak berdaya,” ujarnya.
Berdasarkan analisis citra satelit, Meijaard menyebut sekitar 4.800 hektare hutan di lereng pegunungan mengalami kehancuran akibat longsor. Karena sebagian area tertutup awan, estimasi awal kerusakan kemudian diperluas hingga mencapai 7.200 hektare.
Wilayah yang rusak tersebut diperkirakan menjadi habitat sekitar 35 orangutan. Dengan tingkat kehancuran yang terjadi, Meijaard menilai kemungkinan besar sebagian besar, bahkan seluruhnya, tidak selamat.
“Dua minggu lalu area ini masih berupa hutan primer. Kini di citra satelit tampak seperti tanah kosong, gundul dan hancur total. Pasti mengerikan berada di hutan saat bencana itu terjadi,” ungkapnya.

Tidak sempat menyelamatkan diri
Pendiri Pusat Informasi Orangutan, Panut Hadisiswoyo, menilai kondisi bangkai menunjukkan bahwa sejumlah orangutan Tapanuli kemungkinan besar tidak sempat melarikan diri saat air bah dan longsor menyapu habitat mereka.
Sementara itu, Serge Wich, profesor biologi primata dari Universitas Liverpool John Moores yang lama meneliti orangutan Tapanuli, menjelaskan bahwa dalam kondisi hujan normal, orangutan biasanya bertahan di atas pohon atau menggunakan ranting dan dedaunan sebagai pelindung sambil menunggu hujan reda.
“Namun kali ini, ketika hujan berhenti, semuanya sudah terlambat. Lereng dan lembah tempat mereka hidup telah hilang akibat longsor, dan itu pasti membawa konsekuensi besar,” ujarnya.
Dampak bencana juga dirasakan oleh fasilitas penelitian. Sejumlah pusat riset orangutan di Sumatera dilaporkan rusak berat, termasuk Stasiun Penelitian Ketambe di Aceh yang dikenal sebagai pusat penelitian orangutan tertua di dunia.
Direktur Ilmiah Program Konservasi Orangutan Sumatera, Dr. Ian Singleton, menyebut fasilitas tersebut hancur total dan perlu segera dibangun kembali agar tetap dapat menjalankan peran penting dalam perlindungan hutan dan populasi orangutan di wilayah tersebut.(IK)









