Minggu, Maret 15, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home Kolom

Dilema Kedaulatan Santri?

Hably Hasan by Hably Hasan
22/10/2025
in Kolom, Opini
0
0
SHARES
102
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Dilema Kedaulatan Santri?

Oleh: M. Hably Hasan

 

Masalah yang paling krusial dalam merefleksikan Hari Santri Nasional yang diperingati sejak 22 Oktober 2015 yang lalu adalah keharusan menyusun strategi memperkuat eksistensi sosial ekonomi kaum santri di tengah pergulatan kebangsaan.

Baca JugaArtikel Terkini Lainnya

Nuzulul Iqra

Nuzulul Iqra

07/03/2026
Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan

Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan

03/03/2026
Load More

Ada dua pewarisan pemikiran ideologis seputar lahirnya Hari Santri Nasional yang merujuk dari akar sejarah resolusi jihad 22 Oktober 1945. Pertama, perlawanan terhadap seluruh bentuk penindasan dan penjajahan. Kedua, mempertahankan eksistensi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dilema Kedaulatan Santri?

Kedaulatan santri

Persoalannya, bukankah struktur sosial ekonomi kaum santri hingga saat ini masih terpinggirkan? Padahal, jika merujuk dari seruan ideologis resolusi jihad Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari bisa disimpulkan: selama sosial ekonomi santri belum berdaulat, maka eksistensi kemerdekaan bangsa ini belum utuh.

Baca juga: GP Ansor, Pemuda Lintas Agama, dan Forkopimda Kompak Gelar Deklarasi Damai di Banyuwangi

Masa Pergolakan

Sejak awal abad XX, kondisi ekonomi muslim pribumi mengalami peminggiran. Penguatan titik temu kongsinasi perdagangan masyarakat keturunan Tionghoa dan VOC semakin melemahkan posisi struktural santri.

Kemudian, jauh sebelum Indonesia merdeka dan berdaulat, tepatnya pada 16 Oktober 1905, Kota Surakarta menjadi saksi sejarah kesadaran baru ketika kaum santri yang dipimpin Haji Samanhudi mendeklarasikan berdirinya organisasi Serikat Dagang Islam (SDI).

Pada saat itu, hadirnya Serikat Dagang Islam (SDI) bukan sekadar merepresentasi pedagang muslim, melainkan juga mewakili keresahan kelas menengah sosial ekonomi yang kala itu memang tidak berdaya akibat strategi kolonialisasi perdagangan pemerintahan Hindia Belanda (VOC) yang lebih banyak memfasilitasi para pedagang Tionghoa.

Setelah SDI berdiri memang ada sedikit penguatan struktur perdagangan pribumi muslim. Setidaknya, saat itu Serikat Dagang Tiongkok (Kong Sing) mengajak kerja sama perdagangan dengan SDI.

Sayangnya, kekuatan struktur ekonomi SDI yang baru tumbuh menguat kemudian melemah kembali. Problem krusial yang terjadi karena organ perjuangan para pedagang muslim pribumi, SDI, oleh HOS Tjokroaminoto bersama koleganya pada tahun 1912 diubah menjadi Serikat Islam (SI) yang haluan perjuangannya bergeser pada sosial politik.

Akibatnya, harapan kejayaan ekonomi kaum santri pribumi melalui organisasi SDI kala itu hanya utopia semata.

Kedaulatan santri

Santri Kini

Hingga saat ini posisi sosial ekonomi santri masih menghadapi dilema struktural dan kultural. Kelemahannya bukan saja karena kaum santri tidak memiliki etos kesadaran kolektif berwirausaha, tapi juga terkait dengan keterbatasan akses dengan jejaring strategis lainnya.

Pada bagian lain, struktur negara melalui kekuasaan pemerintah juga kelihatan sekali masih dominan memproduksi kebijakan yang hanya memperkuat posisi konglomerasi. Lebih parah lagi, karena semakin masifnya transaksi politik yang berbasis KKN di balik penguasaan sumber ekonomi. Akibatnya, situasi ini semakin meminggirkan daya saing kaum santri yang memiliki modal dan jejaring terbatas dalam melakukan ekspansi penguatan eksistensi sosial ekonominya.

Keterbatasan modal jejaring santri itu juga tampak pada kemampuan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informatika yang saat ini menjadi keniscayaan untuk menguasai sektor ekonomi. Jika penguasaan teknologi dan informatika tersebut terbatas, maka kekuatan sosial ekonomi akan teralienasi dari struktur dan sistem sosial ekonomi regional, nasional, maupun global.

GP Ansor, Pemuda Lintas Agama, dan Forkopimda Kompak Gelar Deklarasi Damai di Banyuwangi

Kedaulatan

Sudah saatnya secara spesifik pemerintah memiliki kebijakan strategis terhadap proses transformasi teknologi dan informatika yang inklusif untuk kedaulatan ekonomi santri. Jika tidak, maka sesungguhnya harapan kaum santri untuk berdaulat hanyalah delusi.

Akhirnya, untuk merefleksikan kembali nilai resolusi jihad dalam konteks keadilan sosial ekonomi melalui relasi santri atas negara, minimal dibutuhkan prasyarat kesadaran kolektif yang kemudian mampu mentransformasikan secara kontekstual dengan situasi kekinian ketika merumuskan strategi membangun kaidah baru nasionalisme yang secara inheren meletakkan entitas santri dalam proses pembangunan ekonomi nasional.


M. Hably Hasan

Wakil Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banyuwangi

Tags: Hari Santri NasionalHSNKedaulatanSantri
Hably Hasan

Hably Hasan

Related Posts

Nuzulul Iqra
Agama

Nuzulul Iqra

by Mat Ray
07/03/2026
Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan
Opini

Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan

by Nu'man Suhadi
03/03/2026
Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?
Hukum

Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?

by Muhammad Busyrol Fuad
01/03/2026
Momentum Ramadhan Perkuat Pembentukan Karakter Muslim
Agama

Momentum Ramadhan Perkuat Pembentukan Karakter Muslim

by Uril Bahrudin
23/02/2026
Khotmil Qur’an dan Spirit Keseimbangan
Agama

Khotmil Qur’an dan Spirit Keseimbangan

by Uril Bahrudin
22/02/2026
Kontekstualisasi Doktrin Puasa dalam Perang Badar
Agama

Kontekstualisasi Doktrin Puasa dalam Perang Badar

by Gus Awan
21/02/2026
Next Post
Sengketa KMP Kandangsemangkon, Dinas Koperasi Pastikan Ketua RT Boleh Menjadi Pengurus!

Sengketa KMP Kandangsemangkon, Dinas Koperasi Pastikan Ketua RT Boleh Menjadi Pengurus!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

  • Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

    Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kamaruddin Amin, Sekretaris Jenderal Kemenag RI Dituntut Mundur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Sahur, Dua Motor Vario 125 Digondol Maling di Ciptomulyo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekda Lamongan Bantah Berita Tersangkut OTT KPK Bupati Pekalongan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Swa News Indonesia

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Cepat | Mencerahkan

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
© Swa News | Cepat dan Mencerahkan