Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) melakukan langkah strategis dalam memperkuat posisi akademik di kancah internasional dengan mencanangkan Museum Anatomi sebagai Center of Excellence of Human Anatomy Studies.
Sebagaimana dilangsir dari laporan resmi Prasetya UB, inisiatif ini merupakan bagian dari program besar Globalizing UB yang diintegrasikan melalui perhelatan Happy Cell Festival 2026 pada Sabtu (17/10/2026). Langkah ini menandai pergeseran fungsi museum dari sekadar ruang penyimpanan koleksi menjadi pusat riset dan inovasi kesehatan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi medis global.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Internasionalisasi, dan Kerjasama UB, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menegaskan bahwa pengembangan Museum Anatomi FKUB kini diarahkan untuk mendorong stimulasi riset yang berdampak langsung pada masyarakat. Menurutnya, museum tidak boleh lagi dipandang sebagai media pembelajaran statis.
“Museum Anatomi tidak hanya diarahkan untuk menjadi tools atau media pembelajaran, tetapi juga stimulasi dari riset yang bisa dilakukan pengembangan inovasi kesehatan untuk masyarakat kedepannya,” ujar Prof. Andi saat membuka acara tersebut secara resmi.
Dalam upaya modernisasi, FKUB juga menggandeng Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB untuk meluncurkan website resmi Museum Anatomi yang dilengkapi fitur mutakhir. Direktur Museum Anatomi FKUB, Dr. dr. Rita Rosita, M.Kes., menjelaskan bahwa platform digital ini mengintegrasikan teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) untuk memperluas aksesibilitas pembelajaran.
“Website ini sebagai bentuk untuk memperluas akses pembelajaran anatomi secara digital. Kami ingin menunjukkan bahwa belajar anatomi bukan sekadar menghafal nama dan bentuk struktur tubuh manusia, melainkan membangun ekosistem edukasi yang interaktif,” jelas Rita.
Selain aspek teknologi dan riset, aspek etika kedokteran tetap menjadi pilar utama dalam pengembangan pusat unggulan ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya sesi khusus ‘Tribute to Body Donors Legacy for Medical Students’ sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada para pendonor tubuh atau cadaver.
Dr. Rita menekankan bahwa donasi tubuh memiliki peran krusial dalam pembentukan profesionalisme calon dokter. Dengan kolaborasi lintas sektor, termasuk kerja sama dengan Museum Bagong, Museum Anatomi FKUB diharapkan mampu menjadi mercusuar literasi anatomi yang inklusif bagi akademisi maupun masyarakat umum.


















