Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Kota Batu, Swa News – Menjelang puncak peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu yang jatuh pada 17 Oktober, Wali Kota Batu, Nurochman, melakukan ziarah ke makam leluhur Kota Batu pada Rabu (14/10/2026).
Kegiatan sakral tersebut berlangsung di kompleks makam Mbah Batu yang berada di Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji.
Ziarah ini menjadi salah satu agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari jadi.
Wali Kota Batu yang akrab disapa Cak Nur itu datang bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Batu.
Setibanya di lokasi, Cak Nur bersama rombongan langsung melakukan tabur bunga dan memanjatkan doa bersama untuk para leluhur, khususnya sosok Mbah Batu yang selama ini dikenal masyarakat sebagai cikal bakal atau perintis pembukaan wilayah Batu, atau dalam istilah Jawa dikenal sebagai babad alas.
Menurut Cak Nur, ziarah ini bukan sekadar ritual tahunan atau kegiatan seremonial belaka. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengenang jasa, merenungi keteladanan, serta menghormati perjuangan para pendahulu yang telah membuka dan membangun Kota Batu hingga menjadi seperti sekarang ini.
Ia menegaskan bahwa bentuk penghormatan kepada Mbah Batu tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan ziarah dan tabur bunga. Nilai-nilai perjuangan dan kebaikan yang telah ditanamkan oleh para leluhur harus dilanjutkan oleh generasi penerus.
“Cita-cita beliau yang belum tersampaikan barangkali itu kewajiban kami untuk kemudian bisa menindaklanjuti kebaikan-kebaikan itu,” ujar Cak Nur usai ziarah.
Cak Nur menilai, warisan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan para pendahulu harus menjadi pijakan dan landasan moral dalam melanjutkan pembangunan Kota Batu ke depan. Oleh karena itu, peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu tidak hanya dimaknai sebagai pesta perayaan.
“Tetapi juga sebagai ruang refleksi bersama untuk melihat kembali perjalanan panjang kota dan tanggung jawab generasi sekarang terhadap warisan sejarahnya,” tegas Cak Nur.
Untuk diketahui, sosok Mbah Batu sangat melegenda di tengah masyarakat. Dalam tradisi lisan yang berkembang turun-temurun, Mbah Batu dikenal juga dengan nama Mbah Wastu atau Mbah Tu. Ia juga dikaitkan dengan nama lain, yakni Abu Ghonaim dan Kiai Gubug Angin.
Berdasarkan kisah yang dipercaya masyarakat setempat, Mbah Wastu merupakan seorang ulama yang datang dan menetap di wilayah Batu setelah sebelumnya mengikuti perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah. Ia dipercaya memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam serta menjadi tokoh yang membuka permukiman pertama di kawasan kaki Gunung Panderman.
Hingga kini, makam Mbah Batu di Dusun Banaran masih dirawat dengan baik dan menjadi salah satu tujuan ziarah utama bagi masyarakat, terutama menjelang peringatan Hari Jadi Kota Batu setiap tahun.
Pewarta: Sholeh
Editor: Imam


















