Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jawa Timur, Swa News – Nama Gus Lilur belakangan menjadi perbincangan publik, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), setelah menyampaikan dugaan adanya aliran dana dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.
Gus Lilur mengungkap dugaan aliran dana senilai Rp480 miliar yang disebut berkaitan dengan pelaksanaan Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Dalam keterangannya, ia juga mengaitkan dugaan tersebut dengan sejumlah nama tokoh, termasuk Saifullah Yusuf, Nusron Wahid, dan Juri Ardiantoro. Klaim tersebut masih memerlukan pembuktian dan telah mendapat bantahan dari pihak terkait.
Lantas, siapa sebenarnya sosok Gus Lilur yang berani menyampaikan dugaan tersebut ke ruang publik? Gus Lilur merupakan nama panggilan dari Raden Muhammad Khalilur Abdullah Sahlawiy, seorang pengusaha, tokoh muda, dan aktivis NU asal Situbondo, Jawa Timur. Ia memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan dikenal aktif dalam kegiatan sosial serta dunia usaha.
Riwayat Pendidikan
Gus Lilur menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama di daerah kelahirannya, Situbondo. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan pesantren dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Program Khusus di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang.
Setelah menempuh pendidikan pesantren, Gus Lilur melanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengambil jurusan Filsafat Akidah. Ia juga tercatat pernah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Menurut sejumlah informasi biografi, latar belakang pendidikan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Gus Lilur dalam mengembangkan aktivitasnya di bidang keagamaan, sosial, dan bisnis.
Menjadi Pengusaha
Di luar aktivitasnya di lingkungan NU, Gus Lilur banyak berkecimpung dalam dunia usaha. Ia dikenal sebagai pendiri Barong Group dan pemimpin di Balad Group.
Aktivitas bisnisnya merambah sejumlah sektor, mulai dari pertambangan, pertanian, pangan, tembakau dan industri rokok, hingga budidaya ikan laut.
Melalui berbagai lini usaha tersebut, Gus Lilur mengembangkan gagasan mengenai kemandirian ekonomi yang dipadukan dengan kontribusi sosial dan kemanusiaan.
Kontroversi Dugaan Suap Muktamar NU
Nama Gus Lilur menjadi sorotan setelah menyampaikan dugaan adanya aliran uang hasil korupsi senilai Rp480 miliar ke Muktamar ke-35 NU di Jombang pada Agustus 2026.
Dalam keterangannya kepada media, Gus Lilur mengaku memperoleh informasi tersebut secara informal dari sejumlah pihak yang disebutnya berkaitan dengan penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia menyebut dugaan pergerakan uang tersebut berkaitan dengan perkara dugaan korupsi pertanahan di Bogor.
Gus Lilur juga menyampaikan dugaan adanya keterkaitan sejumlah pihak dengan aliran dana tersebut. Namun, informasi yang disampaikannya belum dapat diperlakukan sebagai fakta hukum yang telah terbukti.
Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, yang saat itu menjadi Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU. Gus Ipul membantah tudingan adanya aliran dana hasil korupsi ke Muktamar NU dan menyebut informasi tersebut sebagai fitnah. Ia juga menyatakan akan mempertimbangkan langkah hukum.
Di lingkungan organisasi NU, keberanian Gus Lilur menyampaikan kritik terhadap tata kelola dan sejumlah figur di PBNU turut menjadi perhatian. Meski demikian, dugaan yang disampaikan perlu diuji melalui proses klarifikasi dan penegakan hukum oleh pihak berwenang.
Pengakuan Kehidupan Pribadi
Selain aktivitas bisnis dan pernyataannya mengenai persoalan di lingkungan NU, kehidupan pribadi Gus Lilur juga sempat menarik perhatian publik.
Dalam pengakuannya, Gus Lilur menyebut memiliki empat istri. Ia mengatakan istri pertamanya berasal dari Palembang dan merupakan teman semasa kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Istri keduanya disebut pernah menjadi juara dangdut di Indosiar, sementara istri ketiganya berasal dari Situbondo dan istri keempatnya tinggal di Shenzhen, China.
Informasi mengenai kehidupan rumah tangga tersebut merupakan pengakuan pribadi Gus Lilur yang perlu tetap diatribusikan kepadanya.
Gagasan Membangun Visi Global
Gus Lilur memiliki gagasan yang memadukan kemandirian ekonomi, kontribusi sosial, dan nilai-nilai keagamaan. Ia memperkenalkan konsep Dabatuka, akronim dari “Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan untuk Kemanusiaan”.
Selain itu, terdapat konsep Bakira, yang merupakan singkatan dari Bandar Kyai Nusantara. Secara filosofis, kedua gagasan tersebut menggambarkan pandangannya mengenai pemanfaatan hasil usaha untuk mendukung kegiatan sosial, kemanusiaan, serta penguatan jaringan dakwah para kiai dan pesantren.
Melalui gagasan tersebut, Gus Lilur ingin menghubungkan aktivitas bisnis dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan jaringan pesantren, baik di Indonesia maupun di tingkat global.
Perjalanan Gus Lilur memperlihatkan kiprah seorang pengusaha berlatar belakang santri yang aktif dalam dunia usaha dan dinamika organisasi NU. Namanya kini semakin dikenal publik seiring munculnya pernyataan mengenai dugaan aliran dana dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang yang masih menjadi polemik.
Penulis: Abdurrahman
Editor: Imam Abu Hanifah


















