Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Surabaya, Swa News — Universitas Brawijaya (UB) resmi dinobatkan sebagai “Universitas Pelopor AI” (Artificial Intelligence) dalam rangkaian acara 9.9 Ketik Award 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Mercure Surabaya Grand Mirama, Rabu (9/9/2026).

Penghargaan bergengsi ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan UB dalam mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikan, penelitian, dan layanan administrasi kampus secara berkelanjutan. Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Wakil Rektor V Bidang Riset dan Inovasi, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., dari CEO Ketik.com, Kiagus Firdaus.
Baca juga: Komisi D DPRD Kota Malang Kecam Tindak Kekerasan pada Peserta Didik SMPN 18 Kota Malang
Dalam sambutannya, CEO Ketik.com Kiagus Firdaus menyatakan bahwa apresiasi ini merupakan bentuk pengakuan terhadap lembaga yang mampu memberikan dampak nyata melalui inovasi di tengah masyarakat. “Penghargaan ini kami berikan sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh dan lembaga yang telah memberikan kontribusi, inovasi, serta dampak nyata di tengah masyarakat. Kami berharap penghargaan ini menjadi penyemangat untuk terus berkarya,” ujar Kiagus.
Ia juga menekankan pentingnya ekosistem kolaborasi yang mendorong institusi di berbagai daerah untuk terus memberikan performa terbaiknya bagi publik.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, yang turut hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Ketik.com dalam memberikan rekognisi kepada para pelayan publik. Menurutnya, institusi seperti UB telah menunjukkan dedikasi sebagai pengabdi kepentingan publik melalui pemanfaatan teknologi.
“Harus kita yakini dan sadari bahwa para penerima penghargaan hebat ini adalah pengabdi-pengabdi terhadap kepentingan publik. Penerima penghargaan ini adalah pelayan publik, maka rakyat sebagai pelanggan akan merasa bermanfaat,” tegas Akhmad Munir dalam pidatonya.
Universitas Brawijaya sendiri telah lama mengadopsi AI bukan sekadar sebagai tren, melainkan sebagai instrumen efisiensi. Teknologi ini digunakan oleh tenaga kependidikan untuk memudahkan urusan mahasiswa, serta oleh para peneliti dalam membedah data-data kompleks. Meski demikian, pihak universitas menegaskan bahwa AI diposisikan sebagai alat bantu (tool) dan bukan pengganti peran manusia. Strategi pemanfaatan AI yang tepat guna dan tidak menciptakan ketergantungan inilah yang menjadi alasan utama UB layak menyandang gelar sebagai pelopor di bidang tersebut.(ARD)
Penulis: Ardian F. R
Editor: Mukh. Munif


















