Malang, Swa News — Richie Heritage Hotel bukan hanya sekadar penginapan, tetapi juga memiliki hubungan sejarah dengan perkembangan pusat Kota Malang. Sebuah kombinasi pewarisan budaya klasik dan modernitas. Kini, eksistensi Richie Heritage Hotel yang terletak di Jalan Basuki Rahmat 1 semakin memperkuat landmark kawasan wisata Kayutangan Heritage.

Konon, Richie Heritage Hotel dibangun oleh pihak militer Pemerintah Hindia-Belanda pada 1930 (banyak juga yang menyebut dibangun pada 1933) sebagai asrama militer. Kemudian, menurut cerita, bangunan tersebut beralih menjadi kepemilikan pribadi seorang warga negara Belanda.
Sejak 1975, bangunan Richie Hotel dibeli oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Oey Pek Hong. Oey memiliki nama lain Prof. Dr. Juwana Hardjawijaja, yang kala itu menjabat sebagai jaksa tinggi. Bahkan hingga kini, pemilik dan pengelola hotel tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan yang bersangkutan.
Baca juga: Toko Oen Kayutangan: Titik Temu Kuliner Tempo Doloe Tionghoa-Hindia Belanda di Malang
Untuk menjaga eksistensi di tengah pergeseran orientasi pasar pariwisata saat ini, Richie Hotel terus berbenah. Pada Oktober 2014, hotel ini merenovasi bagian lobi dan kafe, namun tetap mempertahankan bentuk bangunan lama yang klasik. Kemudian pada 1 September 2015, secara resmi dilengkapi dengan sarana Cafe Oey, yang namanya diambil dari Oey Pek Hong sebagai bentuk penghargaan untuk diabadikan.
Richie Heritage Hotel Malang kini
Richie Heritage Hotel Malang kini merepresentasikan identitas unik dalam lanskap Kota Malang, khususnya kawasan wisata Kayutangan. Keunikannya terletak pada struktur arsitekturnya yang memiliki nilai sejarah dan budaya, dengan karakter desain gaya Hindia-Belanda (klasik), sehingga semakin memperkuat citra estetika, fungsi, serta ekologinya.
Namun yang lebih menarik, di balik desain arsitektur Hindia-Belanda dalam hotel tersebut tersimpan kisah pergeseran kekuasaan. Dengan strategi merangkak sunyi, etnik Tionghoa perlahan menggantikan dominasi kuasa ekonomi kolonial yang kala itu lazim menggunakan pendekatan intervensi perdagangan dan militer. Sementara itu, etnik Tionghoa mengambil alih dari konglomerasi dan pemerintah Hindia-Belanda melalui kekuatan modal finansial (kapitalisme), bukan dengan pendekatan militerisme.(SM)
Editor: Munif










