SWANEWS – Profil Kabupaten Blitar menyajikan potret memukau tentang sebuah kabupaten di Jawa Timur yang berada di wilayah pesisir selatan dan akrab dijuluki “Bumi Bung Karno.”
Lebih dari sekadar nama, kabupaten ini adalah saksi bisu perjalanan besar bangsa, mulai dari kisah heroik pengusiran Laskar Tartar di era Majapahit yang melahirkan nama “Blitar”, hingga bara api pemberontakan PETA saat melawan penjajahan Jepang.
Selain kekayaan sejarah, Blitar juga merupakan sentra pangan dan komoditas unggulan nasional, terkenal sebagai Kota Koi dan produsen cokelat terbesar di Jawa Timur, yang didukung oleh kondisi geografis subur yang terbagi oleh Sungai Brantas menjadi dataran tinggi utara dan wilayah pesisir selatan.
Wilayah administratif Kabupaten Blitar berpusat di Kanigoro dan menawarkan beragam potensi, mulai dari situs sejarah kolosal Candi Penataran, Makam Bung Karno yang menjadi destinasi ziarah nasional, hingga keindahan alam seperti pantai-pantai selatan dan Perkebunan Teh Sirah Kencong.
Penduduknya didominasi oleh etnis Jawa dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan peternakan, yang turut menghasilkan kuliner khas berupa Pecel Blitar yang terkenal dengan sambalnya yang lebih pedas dan kental.
Sejarah Nama Kabupaten Blitar dan Jejak Kejayaan di Masa Lampau
Sejarah Kabupaten Blitar kaya akan narasi kepahlawanan dan jejak kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Hari Jadi Kabupaten Blitar ditetapkan pada tanggal 5 Agustus, yang bertepatan dengan sejarah pengusiran bangsa Tartar dan pembentukan awal wilayah tersebut.
Asal Usul Nama “Blitar”
Asal usul nama Blitar secara populer erat kaitannya dengan peristiwa heroik pada masa akhir Kerajaan Singasari dan awal Majapahit.
Kisah yang paling terkenal menyebutkan bahwa nama “Blitar” berasal dari frasa “Bali Tartar,” yang secara harfiah berarti “pulangnya bangsa Tartar” atau “mundurnya Tartar.”
Peristiwa ini merujuk pada keberhasilan gemilang pasukan Raden Wijaya yang berhasil mengusir pasukan ekspedisi Kubilai Khan dari Mongol (Tartar) pada tahun 1293 Saka.
Selain itu, wilayah Blitar pada mulanya merupakan hutan angker yang dibuka atas perintah Raden Wijaya. Beliau menugaskan adipati pertamanya, Aryo Blitar I, untuk memimpin wilayah tersebut. Aryo Blitar I kemudian mengembangkan daerah ini menjadi sebuah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit.
Wilayah ini juga menjadi lokasi kompleks Candi Penataran, candi Hindu terbesar di Jawa Timur. Candi Penataran berfungsi sebagai pusat keagamaan penting pada era Kerajaan Majapahit, membuktikan betapa strategis dan pentingnya daerah Blitar sejak zaman kuno.
Masa Kolonial dan Perlawanan Pahlawan
Pada masa kolonial, Blitar juga menjadi saksi bisu perlawanan rakyat terhadap penjajah. Pada tahun 1723, Raja Amangkurat dari Kerajaan Kartasura menyerahkan Blitar kepada Belanda sebagai imbalan atas bantuan Belanda dalam perang saudara internal kerajaan, yang kemudian mengakhiri status Blitar sebagai kadipaten.
Salah satu momen paling bersejarah di Blitar adalah Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang terjadi pada 14 Februari 1945.
Pemberontakan ini dipimpin oleh Sudanco Supriyadi. Perlawanan ini menjadi salah satu perlawanan terbesar terhadap penjajahan Jepang dan sangat berperan dalam memicu semangat kemerdekaan nasional.
Blitar dan Bumi Bung Karno
Blitar memegang posisi istimewa dalam narasi kebangsaan Indonesia karena menjadi tempat Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dimakamkan.
Makam beliau di Kelurahan Bendogerit telah ditetapkan sebagai tujuan wisata ziarah sejarah yang sangat penting, yang menjadi dasar julukan Blitar sebagai “Bumi Bung Karno.”
Selain makam, tempat bersejarah yang identic dengan Soekarno adalah Istana Gebang. Bangunan ini dahulu merupakan kediaman orang tua Bung Karno dan menjadi tempat tinggal bagi keluarga Soekarno selama masa remaja dan muda beliau.
Dibangun pada era kolonial Belanda, rumah yang beralamat di Jalan Sultan Agung No. 59, Kelurahan Sananwetan, Kota Blitar, ini menyimpan kisah penting perjalanan hidup proklamator.
Untuk lokasinya, Istana Gebang mudah dijangkau karena terletak berdekatan dengan Stasiun Kota Blitar dan juga Makam Bung Karno.
Batas Wilayah Kabupaten Blitar dan Kondisi Topografi
Luas wilayah Kabupaten Blitar mencapai sekitar 1.588,79 km² atau 158.879 hektare. Secara geografis, Kabupaten Blitar terletak antara 111°25′ hingga 112°20′ Bujur Timur dan 7°57′ hingga 8°9’51” Lintang Selatan.
Batas-batas wilayah Kabupaten Blitar adalah sebagai berikut:
- Utara: Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang
- Timur: Kabupaten Malang
- Selatan: Samudra Indonesia (memiliki wilayah pesisir)
- Barat: Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Kediri
Kondisi topografi Kabupaten Blitar sangat beragam dan terbagi menjadi dua bagian utama yang dipisahkan oleh aliran Sungai Brantas:
- Blitar Utara (Lereng Gunung Kelud): Wilayah ini merupakan daerah pegunungan dan dataran tinggi. Struktur tanah di sini sangat subur, sehingga berpotensi besar untuk sektor pertanian dan perkebunan.
- Blitar Selatan (Pegunungan Kapur Selatan): Bagian ini dikenal sebagai daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia. Wilayah selatan memiliki potensi bahan galian, salah satunya kaolin.
Rata-rata ketinggian wilayah Blitar di atas 100 meter di atas permukaan laut, dengan beberapa daerah pegunungan yang mencapai ketinggian lebih dari 300 meter di atas permukaan laut.
Demografi, Perekonomian, dan Komoditas Unggulan di Kabupaten Blitar
Pada data tahun 2024, jumlah penduduk di Kabupaten Blitar tercatat sekitar 1,26 juta jiwa. Jumlah penduduk ini terus mengalami peningkatan yang relatif tinggi dalam lima tahun terakhir.
Sekitar 18,16% penduduk Kabupaten Blitar pada tahun 2024 masih termasuk dalam kategori anak-anak. Sebagian besar penduduk Kabupaten Blitar berasal dari etnis Jawa, meskipun terdapat juga kelompok etnis lain seperti Tionghoa. B
asis perekonomian utama masyarakat sangat bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan, yang didukung oleh kondisi geografis wilayah yang subur.
Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional karena sektor pertanian, perkebunan, dan peternakannya yang kuat. Potensi utamanya meliputi:
- Pertanian: Daerah ini merupakan penghasil padi, sayuran, dan buah-buahan yang signifikan.
- Peternakan: Blitar dikenal sebagai sentra peternakan ayam petelur, ayam buras, sapi perah, dan perikanan.
- Komoditas Unggulan: Blitar sangat terkenal sebagai penghasil cokelat terbesar di Jawa Timur, bahkan memiliki objek wisata edukasi yang populer, yaitu Kampung Coklat.
- Pariwisata: Kabupaten ini memiliki 126 destinasi wisata, termasuk pantai-pantai di wilayah selatan dan situs sejarah budaya.
Struktur Pemerintahan dan Daftar Kecamatan di Kabupaten Blitar
Secara administratif, Pemkab Blitar terdiri dari 22 kecamatan, 220 desa, dan 28 kelurahan. Seluruh wilayah ini terbagi lagi menjadi 759 dusun/Rukun Warga (RW) dan sebanyak 6.978 Rukun Tetangga (RT). Kecamatan Kanigoro ditetapkan sebagai pusat pemerintahan atau ibu kota Kabupaten Blitar.
Daftar nama kecamatan di Kabupaten Blitar meliputi:
- Bakung
- Binangun
- Doko
- Gandusari
- Kademangan
- Kanigoro (Pusat pemerintahan/Ibu kota Kabupaten Blitar)
- Kesamben
- Nglegok
- Panggungrejo
- Ponggok
- Sanankulon
- Selopuro
- Selorejo
- Srengat
- Sutojayan
- Talun
- Udanawu
- Wates
- Wlingi
- Wonodadi
- Wonotirto
Pesona Wisata di Kabupaten Blitar, Mulai dari Sejarah hingga Edukasi
Kabupaten Blitar menawarkan beragam pilihan wisata yang menarik bagi setiap pengunjung, mulai dari situs bersejarah, keindahan pantai di pesisir selatan, hingga agrowisata dan perkebunan teh.
Wisata Sejarah dan Edukasi di Kabupaten Blitar
- Makam Bung Karno: Tempat peristirahatan terakhir proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Kompleks ini menjadi tujuan wisata ziarah penting, dilengkapi dengan perpustakaan dan museum.
- Candi Penataran: Berlokasi di Kecamatan Nglegok, candi ini adalah kompleks candi Hindu terluas dan termegah di Jawa Timur, merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.
- Kampung Coklat: Di Kecamatan Kademangan, pengunjung dapat menikmati agrowisata yang menawarkan edukasi seputar proses pengolahan cokelat, dari biji hingga produk jadi.
- Museum Penataran: Terletak dekat kompleks Candi Penataran, museum ini menyimpan berbagai koleksi benda arkeologi dari era kerajaan.
- Telaga Rambut Monte: Sebuah telaga alami yang juga memiliki situs bersejarah di dalamnya.
Wisata Alam dan Pantai di Kabupaten Blitar
- Pantai Tambakrejo: Pantai ini terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah.
- Pantai Serang: Terletak di Kecamatan Panggungrejo, pantai ini menawarkan pemandangan matahari terbenam yang memukau.
- Perkebunan Teh Sirah Kencong: Terletak di Kecamatan Wlingi, destinasi ini menyajikan pemandangan perkebunan teh yang hijau, hawa sejuk, dan air terjun kecil.
- Air Terjun Jurug Bening: Air terjun di Kecamatan Wates yang menawarkan panorama alam yang instagramable.
Kuliner Khas: Pecel Blitar yang Nikmatnya Tiada Tara
Pecel Blitar merupakan salah satu kuliner khas yang paling populer dan menjadi identitas dari Kabupaten Blitar. Hidangan ini sering dijuluki “Nasi Pecel Pincuk” karena sering disajikan menggunakan pincuk daun pisang.
Perbedaan utama Pecel Blitar dengan pecel dari daerah lain, seperti Madiun, terletak pada sambal kacangnya. Sambal pecel Blitar umumnya memiliki rasa yang lebih pedas dan kental.
Penyajiannya menggunakan pincuk daun pisang menambah aroma khas dan pengalaman makan yang tradisional. Lauk pelengkapnya beragam, termasuk Ikan Uceng Goreng (ikan kecil khas sungai), Ikan Bader Goreng, dan Rempeyek (terutama peyek kacang atau peyek rebon).
Tokoh-Tokoh Penting dari Blitar
Blitar telah melahirkan beberapa tokoh penting yang sangat berpengaruh dalam sejarah nasional Indonesia.
- Ir. Soekarno (Bung Karno): Meskipun terdapat perdebatan tentang tempat lahirnya, Blitar menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Keberadaan makamnya di Kelurahan Bendogerit menjadikan Blitar pusat ziarah nasional.
- Sudanco Supriyadi: Pemimpin legendaris Pemberontakan PETA melawan Jepang pada 14 Februari 1945 di Blitar. Perlawanannya merupakan salah satu gerakan perjuangan kemerdekaan terbesar.
- Adipati Aryo Blitar I: Tokoh sejarah lokal yang diyakini sebagai adipati pertama yang membuka wilayah Blitar atas perintah Raden Wijaya pada era Majapahit.
Demikian sekilas profil Kabupaten Blitar yang memiliki kekayaan sumber daya alam sebagai sentra pangan nasional, hingga pesona wisata budaya dan alam, serta sederet warisan kepahlawanan yang menjadi tauladan masa depan.










