Tulungagung, Swa News– Pagi itu kabut tipis masih menggantung di atas aliran sungai yang membelah wilayah Rejotangan dan Ngunut, Kabupaten Tulungagung menggambarkan pesona Brantas disepanjang alirannya. Tambang terbentang menyebrangi sungai, sebuah tali besi tergantung menjaga perahu agar tetap imbang. Satu per satu sepeda motor, mobil, hingga pick-up perlahan ke atas badan perahu besi yang catnya mulai memudar dimakan usia. (12/02/2026)

Di tepi sungai, antrean kendaraan mengular. Para sopir tampak santai, sebagian menyeruput kopi dari gelas plastik, sebagian lain berbincang ringan sambil menunggu giliran menyeberang.
Bagi mereka, perahu-perahu penyeberangan ini bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah jalan pintas menyambung roda ekonomi.
Sepanjang kurang lebih 20 kilometer wilayah Rejotangan hingga Ngunut, kini tumbuh sekitar 15 perahu penyeberangan yang mewarnai pesona Brantas. Kehadirannya menjawab kebutuhan warga akan akses yang lebih cepat dan hemat biaya. Perahu-perahu ini tidak hanya mengangkut orang dan sepeda motor, tetapi juga mobil hingga truk kecil bermuatan hasil bumi.
Memangkas Waktu, Menghemat Biaya
Ihsan (50), sopir pengangkut buah-buahan, sudah bertahun-tahun melintasi jalur tersebut. Ia masih ingat betul masa sebelum menggunakan jasa perahu tambang.
Baca juga: Eks Lokalisasi Kaliwungu Ngunut Tulungagung, Masih Melayani Tamu di Bulan Ramadan?
Pesona Brantas
“Dulu kalau mau kirim buah harus memutar lewat wilayah Kademangan. Jaraknya jauh, makan waktu, bensin juga boros,” ujarnya sambil mengawasi pick-up bermuatan jeruk yang ia kemudikan perlahan naik ke perahu.
Menurut Ihsan, keberadaan penyeberangan sungai ini memangkas waktu tempuh hampir separuhnya. Ongkos bahan bakar berkurang, biaya operasional lebih ringan, dan barang bisa sampai lebih cepat ke pasar.
“Kalau lewat sini cuma 18000, dagangan cepat sampai, otomatis kualitasnya juga lebih terjaga,” tambahnya.
Efisiensi transportasi, yang kini menjadi kebutuhan utama masyarakat, terasa nyata dampaknya di sini. Kelancaran mobilitas bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal keberlangsungan ekonomi kecil yang bergantung pada perputaran barang setiap hari.
Pesona Brantas Menggerakkan Roda Ekonomi Keluarga
Tak hanya pengguna jasa yang merasakan manfaatnya. Bagi Wahyudi (34), perahu penyeberangan adalah sumber penghidupan utama.
Sudah lebih dari lima tahun ia menekuni pekerjaan ini. Setiap hari 24 jam terbagi menjadi dua shift, bersama dua orang anak buah kapal (ABK) setiap shift bolak-balik mengantar kendaraan menyeberangi sungai.

“Kalau hari biasa, omset bisa sampai dua juta rupiah per hari. Kalau hari libur atau menjelang hari raya, bisa lebih,” katanya.
Dari penghasilan itu, Wahyudi mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Baginya, sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan jalur rezeki yang menghidupi keluarganya.
Meski terlihat sederhana, pekerjaan ini menuntut ketelitian dan tanggung jawab. Mengangkut mobil dan truk kecil di atas perahu memerlukan perhitungan keseimbangan agar tetap aman saat melintasi arus.
“Yang penting hati-hati dan jangan memaksakan muatan,” ujarnya singkat.
Harapan Generasi Muda
Di atas perahu yang sama, Yanto (20), seorang ABK, sibuk mengatur posisi sepeda motor agar tersusun rapi. Usianya masih muda, tetapi tanggung jawabnya tak kecil.
“Alhamdulillah, ikut perahu ini bisa bantu biaya hidup. Bahkan sudah bisa membiayai pernikahan sendiri,” katanya sambil tersenyum.
Bagi Yanto, bekerja di perahu penyeberangan memberi peluang yang mungkin tak ia dapat di tempat lain. Di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan, sungai justru membuka ruang ekonomi baru.
Denyut yang Tak Pernah Berhenti
Keberadaan sekitar 15 perahu penyeberangan di sepanjang Tulungagung timur menunjukkan pesona brantas menjawab kebutuhan transportasi yang mampu melahirkan solusi berbasis lokal. Infrastruktur sederhana ini menjadi simpul penting distribusi barang dan mobilitas warga.
Perahu-perahu di sepanjang pesona Brantas terus bergerak seharian dari pagi hingga pagi lagi, mengangkut roda dua, roda empat, dan harapan para penggunanya. Dengan biaya yang cukup murah sebagai penyambung roda perekonomian di antara arus deras sungai Brantas. Roda dua hanya di tarif Rp 3 ribu rupiah. Sedangkan roda 4 dengan tarif 18 ribu rupiah dan untuk truk di tarif 25 ribu rupiah untuk sekali penyeberangan.
Pesona Brantas tak hanya sungai yang mengalir seperti biasa. Namun di atasnya, denyut ekonomi kecil terus berputar—menghubungkan desa ke desa, mempersingkat jarak, dan menjaga roda kehidupan tetap berjalan.
Di tepian Rejotangan hingga Ngunut, perahu penyeberangan bukan sekadar alat angkut. Ia telah menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana efisiensi transportasi mampu menggerakkan kehidupan masyarakat sehari-hari. (AF)










