Lamongan, SWANEWS — Tradisi Riyoyo Kupatan (Hari Raya Ketupat) sudah lama berlangsung dalam budaya masyarakat Islam pesisir utara Lamongan. Namun, sejak era 80-an hingga kini, Riyoyo Kupatan terlihat lebih bersifat seremonial dan terkesan hedonis.
Bagi masyarakat pesisir Lamongan, Riyoyo Kupatan yang biasanya dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idulfitri—tepatnya pada 8 Syawal—tampak lebih banyak menyajikan acara makan-makan dan hiburan.
Bahkan, ketika kami menjumpai beberapa masyarakat pesisir yang telah mengalami masa Riyoyo Kupatan sekitar era 80-an hingga saat ini, kebanyakan dari mereka tidak memahami makna tradisi yang selama ini dijalankan.
“Riyoyo Kupatan yo riyoyo mari lebaran terus gawe kupat, terus akeh acara musik hiburan dangdut,” ujar Nasrun kepada Swanews.
“Aku tidak mengerti arti kupat dan lepet, tapi biasanya kalau Riyoyo Kupatan itu ya membuat ketupat dan lepet, pakai lodeh ikan tongkol atau ikan laut asap lainnya,” timpal Son saat ditanya seputar arti kupat (ketupat).
Padahal, tradisi Riyoyo Kupatan yang diperkenalkan oleh Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga pada masa Kerajaan Demak tersebut, memiliki makna hakikat dan filosofi mendalam. Selain sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan dan puasa sunnah Syawal, tradisi kupatan juga sarat akan simbolisme.
Menurut spiritual Jawa, kupat (ketupat) melambangkan pengakuan kesalahan dan dosa (ngaku lepat). Sementara janur yang menjadi bungkus ketupat dan lepet—yang selama ini oleh masyarakat pesisir menggunakan daun kelapa muda (pupus)—berarti kembali ke asal muasal manusia. Janur juga sering dimaknai sebagai jatining nur (hati nurani) atau sejatine nur (cahaya sejati).
Pada era 80-an, pusat kegiatan Riyoyo Kupatan berada di Tanjung Kodok dan Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Kala itu, pelaksanaan ritual budaya Riyoyo Kupatan, khususnya di Sendang Duwur, masih terasa sakral karena berbalut unsur keyakinan lokal yang terkait dengan mitos.
Apapun bentuk perkembangannya saat ini, pelaksanaan tradisi Riyoyo Kupatan tetap menjadi cermin perpaduan nilai budaya pesisir utara Jawa dengan ajaran Islam mengenai hakikat kesucian hati serta upaya mempererat tali persaudaraan.

















