Malang, Swa News– Sore itu langit di kawasan Elpico, Jalan Villa Puncak Tidar, tampak lebih gelap, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Jarum jam masih jauh dari azan magrib, tapi pelataran parkir Gyu-Kaku Malang sudah lebih dulu padat. Beberapa orang terlihat berlari kecil masuk ke dalam restoran, ada juga yang tampak gelisah menatap ke arah jalan raya. (2/3/2026)

Selama Ramadan, Gyu-Kaku Malang membagi waktu makan menjadi dua sesi, pukul 17.30 WIB dan 19.30 WIB. Cara itu dilakukan untuk mengatur jumlah tamu yang datang bersamaan. Operasional berlangsung hingga pukul 21.00 WIB, namun menjelang berbuka, hampir semua meja sudah terisi.
Di antara pengunjung yang datang lebih awal, ada Intan yang sore itu memilih ngabuburit bersama pasangannya. Ia mengaku sudah mencoba melakukan reservasi beberapa hari sebelumnya, tapi jadwal cepat penuh.
“Rame banget dan susah cari booking. Tadi juga sempat nunggu karena penuh. Untungnya masih ditoleransi sedikit keterlambatan karena masuk kloter kedua,” ujarnya sambil tersenyum.
Begitu masuk ke dalam, suasana terasa hangat. Bunyi desis daging yang menyentuh panggangan bercampur dengan percakapan pengunjung. Di setiap meja, grill kecil menyala. Asap tipis mengepul pelan, membawa aroma khas daging bakar yang membuat perut makin terasa kosong. Bagi Intan, justru di situlah letak keseruannya.
Baca juga: Tren Fitness Ramadan di Malang, Flash Gym Ramai Pengunjung Usai Berbuka Puasa
“Seru sih, sambil nunggu buka bisa ngobrol dan siapin dagingnya. Jadi pas azan tinggal makan,” katanya.
Di sudut ruangan, tampak sekelompok keluarga yang berbagi tugas—ada yang membalik daging, ada yang menyiapkan saus. Di meja lain, sepasang anak muda sibuk mengatur posisi ponsel sebelum akhirnya ikut memanggang. Momen berbuka bukan hanya soal makanan, tapi juga kebersamaan yang terasa lebih dekat saat duduk melingkar di sekitar panggangan.
Sensasi Berbeda Ngabuburit di Gyu-Kaku Malang
Lonjakan pengunjung selama Ramadan di Gyu-Kaku Malang bukan hal baru bagi para staf. Dinda, salah satu pramusaji, mengatakan suasana seperti ini sudah menjadi pola tahunan.
“Biasanya memang full booking karena banyak yang berbuka bersama. Jadi kami harus tetap standby dan menjaga pelayanan agar tamu tetap nyaman,” jelasnya.
Ia dan rekan-rekannya bergerak cepat mengantar pesanan, mengganti panggangan, dan memastikan kebutuhan tamu terpenuhi. Di tengah kesibukan itu, senyum tetap dijaga. Bagi mereka, Ramadan berarti ritme kerja yang lebih padat, tapi juga suasana yang lebih hidup.

Konsep All You Can Eat (AYCE) memang memberi pengalaman berbeda. Pengunjung bebas memilih dan memanggang sendiri aneka menu yang tersedia. Selama Ramadan, pilihan paket Ramadan Buffet dan Premium Ramadan Buffet menjadi andalan. Menu seperti Wagyu Bakso, Karubi Soup, Wagyu Cheese Rendang, hingga irisan karubi dan beef tongue kerap menjadi favorit pelanggan.
Fenomena berbuka di restoran kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan di Malang. Ngabuburit tak lagi hanya identik dengan menunggu waktu di jalanan atau di rumah. Sebagian orang memilih duduk bersama keluarga, teman, atau pasangan, menikmati waktu sebelum azan dengan memanggang daging sendiri.
Menjelang magrib, suasana di dalam restoran perlahan hening sejenak. Semua mata seakan menunggu detik yang sama. Lalu azan berkumandang, percakapan kembali mengalir, dan tangan-tangan yang sejak tadi sibuk akhirnya mulai menyantap hidangan.
Bagi sebagian orang, rela datang lebih awal dan antre sejenak terasa sepadan. Karena yang dicari bukan hanya makan sepuasnya, tetapi juga momen sederhana—duduk bersama, berbagi cerita, dan merayakan berbuka dengan cara yang sedikit berbeda. (ARN)










