Surabaya, Swa News– Gelombang peserta seleksi Computer Assisted Test (CAT) Koperasi Merah Putih memadati sejumlah titik di Surabaya hari ini, Rabu (6/5). Berdasarkan pantauan di lokasi ujian, Gedung Graha Pena, Jawa Pos, Surabaya tes sesi pertama dimulai sejak pukul 08.00 WIB, kemudian berlanjut hingga sesi kedua. Meski pelaksanaan teknis berjalan tertib, beragam keluhan muncul dari para peserta terkait efisiensi waktu pengerjaan dan kendala geografis.

Sentralisasi lokasi ujian di Surabaya memaksa peserta dari wilayah yang cukup jauh menempuh perjalanan lintas kota demi mencapai lokasi tepat waktu. Faktor kelelahan fisik diperjalanan menjadi variabel yang tidak terhindarkan. Disinyalir memengaruhi performa konsentrasi peserta saat menghadapi soal-soal tingkat tinggi.
“Saya berangkat subuh dari Bojonegoro agar tidak terlambat mengikuti Sesi pertama. Namun, energi saya sudah terkuras di perjalanan. Saat masuk ruang ujian, konsentrasi saya sudah pecah, apalagi harus menghadapi timer yang berjalan sangat cepat,” ujar Andi (24) peserta asal Bojonegoro.
Baca juga: Masuk Hari Ke 14, 81.999 Jemaah Haji Indonesia Telah Berangkat Ke Tanah Suci
Durasi Pengerjaan Tes CAT Koperasi Merah Putih Dinilai Tidak Manusiawi
Keresahan memuncak saat peserta memasuki subtes kognitif. Meski diinstruksikan membawa pensil untuk perhitungan manual, durasi waktu yang diberikan hanya berkisar 6-8 menit dinilai sangat tidak proporsional. Banyak peserta merasa instruksi logistik menjadi sia-sia karena sempitnya waktu berpikir.
Dimas (25), peserta asal Malang, mengungkapkan kekecewaannya. “Instruksi membawa alat tulis terasa kontradiktif. Untuk membaca soal hingga selesai saja waktunya hampir habis, sehingga kami terpaksa menjawab secara instan berdasarkan insting semata agar tidak gugur otomatis,” ungkapnya pada reporter Swa News.

Ketatnya sistem gugur pada Tes CAT Koperasi Merah Putih dikombinasikan dengan kendala waktu yang ekstrem memicu pertanyaan besar mengenai nasib 30 ribu formasi yang dibuka secara nasional. Jika standarisasi tes CAT Koperasi Merah Putih tidak segera diseimbangkan dengan rasio waktu berpikir yang logis. Dikhawatirkan kuota besar itu tidak terserap secara maksimal karena banyak peserta potensial yang gugur akibat kendala teknis waktu.
Fajar (25), peserta dari Surabaya, turut menyoroti hal ini. “Sangat disayangkan jika lapangan kerja yang luas ini tidak terisi hanya karena filter seleksi yang terlalu mengandalkan kecepatan motorik daripada kedalaman logika pengerjaan soal,” tuturnya saat ditemui di sela pergantian sesi.
Respons Pihak Pelaksana Tes CAT Koperasi Merah Putih
Di sisi lain, panitia pelaksana di Graha Pena menegaskan peran mereka memastikan operasional tes berjalan tertib sesuai aturan pusat. Terkait detail substansi soal dan kebijakan durasi pengerjaan merupakan ketetapan dari instansi pembina terkait yang mengoordinasikan rekrutmen ini.
Hingga berita ini dilaporkan, suasana di Graha Pena masih dipadati peserta yang menunggu giliran sesi berikutnya. Para peserta berharap adanya evaluasi menyeluruh agar proses rekrutmen di masa mendatang lebih mempertimbangkan aspek distribusi lokasi dan keadilan waktu pengerjaan soal bagi seluruh pelamar kerja.(ARD)

















