Malang, Swa News – Ngabuburit jelang buka puasa di hari pertama Ramadan disambut antusias warga Mergosono. Pasar takjil Mergosono yang berlokasi di Jalan Kolonel Sugiono RT 04/04 dan RT 01/04, RW 04, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, dipadati pengunjung sejak sore hari.

Pasar takjil Mergosono
Semangat warga berburu takjil di hari pertama puasa terlihat membludak. Warga RW 04 tumpah ruah memenuhi sepanjang lokasi pasar yang membentang di dua RT tersebut. Aneka jajanan khas Ramadan tersaji di puluhan stan yang berjajar rapi di sisi jalan.
Pasar takjil yang dikelola oleh RT setempat ini telah berjalan kurang lebih tujuh tahun. Hingga saat ini, tercatat sekitar 80 stan telah terisi, dengan rincian 30 stan di RT 04 dan 50 stan di RT 01.
Pasar takjil ini mulai beroperasi pukul 15.00 WIB hingga menjelang waktu magrib. Setelah adzan berkumandang, sebagian besar pedagang langsung menutup lapaknya. Untuk menjaga ketertiban, tiga personel Linmas diterjunkan guna membantu pengaturan lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan. Mereka membantu pengunjung menyeberang serta mengatur parkir kendaraan.
Pengelola Pasar Takjil Mergosono
Ketua RT 04/04 sekaligus pengelola pasar takjil, Ibu Ulfa, menjelaskan bahwa pasar ini berawal dari inisiatif kecil warga.
“Pasar takjil ini dulu kecil, Mas. Sudah berjalan sekitar tujuh tahun sejak saya menjadi Ketua RT sampai sekarang. Ide ini memang untuk membantu ekonomi warga. Dengan adanya pasar takjil ini, warga bisa mendapat tambahan pemasukan, UMKM hidup, dan ekonomi berputar,” jelasnya.

Ia menambahkan, gagasan tersebut melalui proses diskusi bersama perangkat RW dan melibatkan RT, RW, Linmas hingga Babinsa.
“Semua kami libatkan dan sudah kami bagi peran masing-masing. Linmas kami fungsikan untuk mengatur lalu lintas, membantu pengunjung menyeberang dan parkir. Intinya supaya tetap tertib dan tidak macet,” tegasnya.
Salah satu anggota Linmas yang bertugas, Lukman, mengatakan dirinya bersama dua rekannya, Riyanto dan Gunawan, mulai berjaga sejak pukul 15.00 WIB hingga waktu berbuka.
“Kami ditugasi mengatur lalu lintas supaya tetap lancar. Masuk dari jam tiga sore sampai magrib,” ungkapnya.
Antusiasme juga datang dari para pengunjung. Tasya, Haura, dan Leha yang ditemui di lokasi mengaku senang dengan adanya pasar takjil tersebut.
“Meriah dan ramai sekali. Alasan kami ke sini karena dekat dari rumah, pilihan takjilnya banyak, dan harganya juga bersahabat,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pedagang pentol kriwil, Agung, mengaku sudah berjualan sejak pasar ini pertama kali dibuka.
“Saya buka dari jam 15.00 sampai magrib. Sudah jualan di sini setiap tahun sejak awal dibuka. Untuk hari pertama ini saya siapkan 15 kilogram pentol. Besok baru kita sesuaikan lagi dengan kebutuhan. Hari pertama ini jadi patokan untuk hari-hari berikutnya,” pungkasnya.
Ramadan memang identik dengan berbagai kegiatan seperti ngabuburit, buka bersama, tadarus, hingga berbagi takjil. Selain menjadi momen kebersamaan, kegiatan ini juga mampu menggerakkan roda perekonomian warga. Kolaborasi antara masyarakat dan perangkat lingkungan terbukti dapat menghidupkan UMKM lokal serta memperkuat ekonomi di tingkat bawah. (MJ)
Reporter: Mujali









