Malang, Swa News – Setiap hari Senin dan Kamis, warga Malang dapat mengikuti konseling gratis di Gedung Malang Creative Center (MCC) lantai 5. Program Pojok Curhat, gagasan dari Yayasan Mahargijono Schutzenberger, memfasilitasi warga yang membutuhkan pendampingan emosional.

Yayasan Mahargijono Schutzenberger, mitra dari Association Franco-Indonésienne pour le Développement des Sciences (AFIDES), meluncurkan program Pojok Curhat sejak April 2025. Program ini terbuka bagi semua usia tanpa dipungut biaya. Dilaksanakan setiap Senin dan Kamis pukul 10.00–19.00 WIB di Co-working Space 1 lantai 5 MCC, bertujuan sebagai ruang aman bagi masyarakat untuk berbagi persoalan psikososial.
Christo Tulung, Kepala Bidang Program dan Pengembangan Yayasan, menjelaskan mayoritas pengunjung adalah anak muda kisaran usia 18–25 tahun. Namun, sebenarnya layanan ini tidak terbatas usia. Bahkan beberapa kali ada pengunjung yang berusia di atas 60 tahun. Mereka bercerita berbagai persoalan kehidupan yang dialaminya.
“Kami pernah menerima pengunjung berusia 70 tahun, dengan persoalan yang sangat beragam, mulai dari ekonomi, keluarga, karier, sampai relasi sosial,” ungkapnya pada reporter Swa News (09/2/2026).
Menurutnya, tujuan utama program ini adalah menyediakan ruang refleksi dan dukungan awal bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan emosional. Pelayanannya bersifat personal dan dialogis, menyerupai pola bimbingan akademik antara mahasiswa dan dosen. Pengunjung dapat secara langsung mendaftar dan memilih sesi konsultasi sesuai kebutuhan mereka.
“Banyak masyarakat membutuhkan ruang refleksi dan pendampingan emosional. Sehingga kami melakukan pendampingan secara privat, ngobrol santai seperti halnya saat bimbingan akademik. Untuk mengikuti konseling cukup isi daftar hadir dan memilih sesi yang dibutuhkan,” tambahnya.
Pojok Curhat Ruang Bercerita
Salah satu pengunjung Pojok Curhat, Ayu (23), mengaku mengetahui program tersebut secara tidak sengaja saat berkunjung ke MCC. Ia menilai keberadaan layanan ini sangat bermanfaat, terutama bagi anak muda yang kesulitan mencari ruang bercerita.
“Kadang kita cuma butuh didengarkan tanpa dihakimi. Di sini rasanya lebih aman,” katanya.
Sementara itu, Wildan Zarief, Kepala Bidang SDM dan Relawan Yayasan Mahargijono Schutzenberger, menegaskan bahwa para pendamping tidak bertugas memberikan keputusan, melainkan menjadi fasilitator cerita.
“Kami menyediakan ruang, bukan vonis,” ujarnya.
Perwakilan manajemen MCC menyampaikan keberadaan program Pojok Curhat sejalan dengan fungsi MCC sebagai ruang kreatif dan inklusif bagi masyarakat. Lembaga atau yayasan dapat memanfaatkan fasilitas MCC setelah melalui mekanisme kerja sama dan penyesuaian fungsi ruang. Program Pojok Curhat diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem layanan sosial yang mudah diakses, khususnya di tengah meningkatnya kebutuhan dukungan kesehatan mental di perkotaan. (NA)
Reporter: Nabilul Afkar







