Malang, Swa News – Agenda Pasar Murah Pemkot Malang untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 2026 di Kantor Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, berlangsung ricuh. (10/3/2026).

Pasalnya, panitia penyelenggara dari Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang dinilai tidak siap menghadapi serbuan warga. Situasi yang semakin tidak terkendali bahkan menyebabkan pagar Kantor Kecamatan Kedungkandang ambruk akibat dorongan warga yang berusaha masuk ke area lokasi pasar murah.
Menurut Bambang, salah satu warga yang mengantre untuk menebus paket sembako seharga Rp50 ribu di pasar murah tersebut, antrean sudah ramai sejak pagi hari. Ia mengaku datang sekitar pukul 06.00 WIB dan harus menunggu hingga siang sebelum akhirnya berhasil masuk, tepat sebelum kejadian pagar kantor kecamatan jebol.
“Aku tadi sampai di sini sekitar jam 6, sudah rame banget. Tadi saja hampir tidak dapat. Kejadiannya tadi sewaktu aku sudah mau balik, tiba-tiba ada suara ramai di depan situ, eh ternyata pagernya jebol,” ujarnya kepada reporter Swa News.
Baca juga:Mengular! Warga Lowokwaru Kecewa pada Penyelenggara Pasar Murah Pemkot Malang
Camat Kedungkandang, Fahmi Fauzan, menjelaskan bahwa kericuhan di agenda Pasar Murah Pemkot Malang ini terjadi karena banyak warga yang kecewa setelah berjam-jam mengantre namun tidak kebagian paket sembako. Paket yang disediakan oleh Diskopindag berisi beras 5 kilogram, gula, dan minyak goreng dengan jumlah terbatas, yakni hanya sekitar 1.300 paket.
Sementara itu, jumlah warga yang datang membludak. Bahkan antrean disebut mencapai hingga kawasan GOR Ken Arok.
“Banyak warga yang sudah mengantre sampai GOR sana. Sementara kuota yang disediakan oleh Diskopindag sangat terbatas, hanya 1.300 paket. Ya pasti warga jadi sangat kecewa, mas,” terangnya.
Ricuh Pasar Murah Pemkot Malang di Kantor Kecamatan Kedungkandang
Fauzan juga menjelaskan kronologi ambruknya pagar kantor kecamatan saat agenda Pasar Murah Pemkot Malang. Menurutnya, kejadian bermula setelah panitia selesai menghitung sisa paket sembako yang tersedia.
Saat itu, panitia kemudian mengumumkan kepada warga yang masih berada di luar area bahwa paket yang tersisa hanya sekitar 250 paket dan mempersilakan mereka untuk masuk.
Namun karena jumlah yang tersisa sangat sedikit dibandingkan banyaknya warga yang menunggu, situasi menjadi tidak terkendali. Warga yang berada di luar pagar berusaha masuk secara bersamaan hingga mendorong pagar sampai akhirnya roboh.

“Awalnya yang di dalam sudah tertib, tinggal sedikit yang antre. Pihak Diskopindag menghitung paket sembako yang tersisa, lalu mengumumkan kepada warga di luar bahwa paket tinggal sekitar 250 dan dipersilakan masuk. Mungkin karena merasa tinggal sedikit, warga yang di luar jadi tidak sabar dan berebut masuk semua. Akhirnya pagarnya ambruk,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi pihak kecamatan. Secara pribadi, sekaligus mewakili instansi yang dipimpinnya, Fauzan juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang hadir atas ketidaknyamanan yang terjadi.
“Saya secara pribadi sekaligus mewakili instansi memohon maaf kepada seluruh masyarakat yang hadir maupun yang terdampak dari kejadian ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Ini akan menjadi evaluasi bagi kami. Semoga ke depan tidak terjadi hal serupa,” tambahnya.
Sementara itu, jurnalis Swa News telah berupaya menghubungi Kepala Diskopindag Kota Malang untuk meminta keterangan terkait kejadian tersebut. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait. (ML)









