Nuzulul Iqra’
Oleh: Mat Ray
Ketika 17 Ramadan tahun pertama Hijriyah itu bersamaan dengan peristiwa turunnya ayat pertama Al-Qur’an, Surat Al-‘Alaq, yang berbunyi Iqra‘ (اقْرَأْ). Secara harfiah, iqra‘ berarti “bacalah!”. Dalam bahasa Arab, iqra‘ berbentuk fi’il amr, yang berarti perintah membaca.

Dalam konteks turunnya ayat pertama tersebut, bukan sekadar hanya perintah membaca tulisan yang berupa rangkaian kata dan kalimat iqra‘ semata, melainkan dalam iqra‘ ada pesan perintah membawa risalah kenabian untuk membaca, menelaah, dan memahami secara komprehensif. Ada proses membaca teks literal, mempelajari alam, diri sendiri, dan tanda-tanda kebesaran Allah.
Maka iqra‘ merupakan bingkai awal dasar peradaban Islam melalui proses membaca, kemudian melahirkan proyeksi pengembangan ilmu pengetahuan yang dapat menumbuhkan kesadaran praksis dalam proses perwujudan nilai peradaban manusia.
Baca juga : Khotmil Qur’an dan Spirit Keseimbangan
Paradigma Iqra‘
Kala itu Muhammad baru bangun dari impiannya. Sambil duduk bersila di dalam Gua Hira, kemudian tiba-tiba Jibril datang membawa perintah Tuhan untuk mengajarkan Muhammad membaca (iqra‘). Muhammad hanya menggeleng sambil berkata, “Saya tidak bisa membaca, saya tidak mengenal bacaan” (Ma ana bi qari).
Akhirnya Jibril membuka risalah wahyu pertama (Al-‘Alaq 1–5) tersebut yang berisi perintah membaca (belajar) dengan nama Allah, menekankan asal manusia yang lemah, serta pentingnya ilmu pengetahuan sebagai pilar peradaban.
Sedangkan para mufasir juga berpendapat soal Al-Qalam yang punya kaitan dengan iqra‘. Menurut sebagian ulama, الْقَلَمِ (pena) dalam Al-‘Alaq tersebut menjadi simbol wahyu. Ahli tafsir mengaitkan qalam dengan alat yang digunakan malaikat untuk mencatat ketetapan Allah, wahyu, risalah suci yang kemudian menjadi pancaran utama (emanasi) bagi ilmu pengetahuan.
Tauhid Pembebasan
Ketika itu kehidupan sosial Muhammad berada dalam ekosistem Arab Jahiliah. Kehidupan yang ditandai tanpa ilmu pengetahuan dan nilai kebenaran wahyu. Kehidupan masyarakat yang bermuara pada penyembahan berhala, fanatisme kesukuan (ashabiyah) yang tinggi, serta perilaku moral yang merosot seperti kekejaman, riba, dan merendahkan wanita.
Kemudian iqra‘ menyertai kegelisihan diri Muhammad atas realitas budaya masyarakatnya tersebut. Dan iqra‘ pula yang membuka tabir literasi Muhammad untuk merekonstruksi tauhid pembebasan, yang secara konseptual melegislasi berpikir kritis untuk melawan penindasan dan ketidakadilan sosial.
Pada akhirnya, iqra‘ yang menyertai paradigma tauhid pembebasan akan menjadi kekuatan penggerak dalam mewujudkan kesetaraan dan membebaskan manusia dari belenggu struktural yang menindas.
Mat Ray
Pelaku spiritual









