Khotmil Qur’an dan Spirit Keseimbangan
Oleh: Prof. Dr. KH. Uril Bahrudin, MA
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ یُّؤْتِیَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ یَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّیْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۟ۙ
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Al-Imran ayat 79)
Ayat tersebut memuji orang-orang yang terus mengajar dan belajar. Mereka dinisbatkan kepada “Rabb” dengan sebutan “Rabbani”, sebuah derajat mulia bagi insan yang hidupnya tak pernah lepas dari ilmu dan pengajaran.

Desain gambar Ilustrasi : Munif
Khotmil Qur’an
Esensi Madrasah
Madrasah menjadi institusi para “Rabbani” dalam menjalankan peran jati dirinya. Dalam sistem pedagogisnya, ada guru yang mengajar, murid yang belajar, juga mereka yang mendengarkan dan mencintai ilmu. Terkait proses tersebut, ada atsar Abu Darda: “Jadilah engkau orang berilmu, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu, atau pecinta ilmu; dan jangan menjadi yang kelima, maka engkau akan binasa.”
Secara eksistensial, posisi guru, murid, pendengar, dan pecinta ilmu hidup dan tumbuh dalam lingkup institusi pendidikan (madrasah, sekolah). Mereka terikat dengan tanggung jawab transendental dalam membangun dignity budaya dan peradaban manusia melalui proses pendidikan, bukan sekadar peran administratif.
Pendekatan Tawazun
Dalam menyikapi kehidupan dunia, Islam mengajarkan doa yang begitu masyhur dalam Surah Al-Baqarah ayat 201: “Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil-aakhirati hasanah.” Kita diajarkan untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat sekaligus. Dunia tidak ditinggalkan, akhirat tidak dilupakan.
Dalam ayat lain disebutkan: “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia.” Sebuah pesan yang sangat relevan bagi kehidupan manusia.
Bahkan dalam perkara mubah seperti makan dan minum, Islam mengingatkan agar tidak berlebihan (Al-A’raf: 31). Dalam berinfak pun tidak boleh terlalu kikir dan tidak pula boros (Al-Furqan: 67). Semua mengajarkan satu hal: keseimbangan adalah kunci keberkahan.
Jika kita tarik dalam konteks pendidikan, maka konsep tawazun (keseimbangan) menjadi sebuah keniscayaan. Secara konfiguratif, eksistensi manusia memiliki tiga komponen utama yang harus dipenuhi kebutuhannya: akal (‘aql), jasmani (jism), dan hati (qalb).
Baca juga: Ramadhan dan Pranata Keluarga Harmonis untuk Meraih Taqwa
Khotmil Qur’an
‘Aql diasah melalui ilmu pengetahuan, diskusi, riset, dan pembelajaran yang serius. Jism dijaga melalui asupan gizi yang baik, olahraga, dan lingkungan yang sehat. Sedangkan qalb dipelihara dengan ibadah, zikir, shalat, serta membaca kitab suci Al-Qur’an.
Konsekuensinya, jika salah satu dari tiga unsur ini diabaikan, maka pertumbuhan manusia menjadi timpang. Pendidikan yang hanya mengejar kecerdasan intelektual tanpa memperhatikan spiritualitas akan melahirkan generasi cerdas namun kering makna. Sebaliknya, semangat spiritual tanpa penguatan ilmu dan keterampilan juga akan menyulitkan generasi dalam menghadapi tantangan zaman. Begitu pula, jika jasmani lemah, maka akan menghambat optimalisasi potensi akal dan hati.
Selama lembaga pendidikan konsisten menjaga ruh Rabbani dan prinsip tawazun, maka masa depan bangsa ini akan tetap memiliki harapan. Dari ruang-ruang kelas yang penuh doa dan ayat-ayat suci akan lahir generasi yang menebar kebaikan, menjaga keseimbangan, dan membawa Indonesia menuju peradaban yang lebih mulia. Wallahu a’lam.
Prof. Dr. KH. Uril Bahrudin, MA
Pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Timur
Khotmil Qur’an









