Malang, Swa News— Hotel Pelangi Malang yang terletak di Jalan Merdeka Selatan merupakan salah satu hotel tertua di Kota Malang. Hotel yang menghadap ke arah Alun-Alun Kota Malang tersebut konon berdiri sejak 1860. Awalnya merupakan bangunan penginapan biasa yang didirikan oleh seorang pengusaha Belanda, Abraham Lapidoth.

Kemudian sejak tahun 1915–1916, bangunan tersebut berubah menjadi sebuah hotel. Awalnya bernama Palace Hotel. Lantas pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942–1945, berganti nama menjadi Asoma Hotel. Pada tahun 1945–1953 kembali lagi bernama Palace Hotel. Akhirnya pada tahun 1953, sejak diakuisisi oleh seorang pengusaha kontraktor asal Banjarmasin, H. Sjachran Hosein, hotel tersebut resmi bernama Hotel Pelangi. Kini, operasional Hotel Pelangi masih dikelola oleh generasi kedua keluarga H. Sjachran Hosein.
Baca juga Richie Heritage Hotel Malang: Titik Balik Kolonial Tempo Doeloe
Harmonisasi Arsitektur Hotel Pelangi Malang
Secara spesifik, Hotel Pelangi Malang memiliki corak arsitektur kolonial Belanda yang khas, khususnya perpaduan gaya landhuizen yang sangat populer sebagai tipologi rumah pedesaan Eropa dan gaya Empire Style yang megah, yang ditandai dengan pilar-pilar tinggi, bangunan kokoh, serta suasana klasik Eropa.

Pada bagian lain, bangunan yang ada juga memiliki sentuhan arsitektur tradisional Jawa, seperti gaya Joglo. Pada awal berdirinya (1850), bangunan tersebut berbentuk rumah Joglo sebelum mengalami transformasi. Meski demikian, hingga kini sentuhan Joglo Nusantara bercorak klasik tetap menghiasi struktur bangunan yang ada.
Saat ini, Hotel Pelangi Malang diakui sebagai salah satu ikon cagar budaya heritage Kota Malang. Alasannya, karena hotel ini tetap mempertahankan arsitektur kolonial aslinya, termasuk keaslian lantai, tegel, dan plafon khas masa kolonial. Selain itu, interior klasik seperti lukisan-lukisan peninggalan Belanda juga masih dipertahankan.
Secara holistik, arsitektur Hotel Pelangi merupakan perpaduan eksotis antara gaya kolonial Belanda dan nuansa Jawa. Meskipun dalam sejarahnya terdapat ketegangan politik akibat relasi kolonialisme, namun dalam ranah budaya lahir sebuah karya seni arsitektural yang berupaya menggambarkan harmonisasi sosial antara masyarakat Hindia Belanda dengan masyarakat Jawa. (SC)










