Lamongan, Swa News – Barangkali sekitar 25 tahun yang lalu, Rickyanto (39) yang akrab disapa Ricky, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, putra dari seorang ayah bernama Mundhib dan ibu Umari. Ia hanyalah anak seorang nelayan kecil, nelayan tradisional, nelayan Desa Paciran, yang jauh dari bising kemajuan ‘revolusi biru’, sebuah proyeksi rezim pemerintahan Orde Baru kala itu dalam melakukan modernisasi peralatan nelayan.

Bahkan, ketika ada modernisasi alat tangkap nelayan secara masif, masyarakat nelayan tradisional Paciran rupanya tidak serta-merta menggeser secara radikal pola konvensional dalam menangkap ikan. Hingga kini, mereka masih menggunakan peralatan tradisional: menggunakan perahu kecil yang disebut ‘Jaten’, yang hanya melibatkan dua ABK (jragan dan belah), kerjanya harian, jadi setiap hari pulang, dan hanya menggunakan alat tangkap sederhana, jaring kecil.
Baca juga: Pesona Brantas ! Tambang Penyeberangan Penyambung Denyut Ekonomi Tulungagung Timur
Rickyanto From Zero to Hero
Menurut Ricky, ada 2 alasan yang mampu melakukan proses transformasi pada dirinya menuju hero: dunia pendidikan dan pengalaman kehidupan sosial.

Proses belajar sejak Madrasah Ibtidaiyah hingga SMA di Mazroatul Ulum, kemudian melanjutkan kuliah di perguruan tinggi dengan mengambil Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, memberi kontribusi besar pada prinsip dasar dalam hidupnya: ketekunan, kedisiplinan, dan kesabaran.
Begitu pula, pengalaman masa kecil dan remaja yang berada dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, hidup di Pantai Sukunan, rupanya ikut memperkuat karakter positif dengan mewarisi jiwa yang ulet, tangguh, punya rasa empati terhadap kaum lemah, dan yang paling mendasar adalah memiliki keinginan kuat keluar dari zona kemiskinan sistemik tersebut.
Akhirnya, jalan kesuksesan mulai terbuka. Karena sejak lulus kuliah (2012), ia langsung diterima bekerja di kawasan industri di Pantura Lamongan, bergabung dengan salah satu perusahaan Contractor & General Service, Hull Construction, New Building & Repair.
Melalui jalan tersebut, kini Rickyanto berbeda jauh dengan keadaan sosial ekonomi masa lalu. Karena Ricky saat ini sudah mengalami proses transformasi sosial. Ia sekarang sudah hidup dalam lingkaran masyarakat profesional industrial. Sehingga, eksistensinya pun mulai diakui dan kemudian dapat menambah jejaring pergaulan yang lebih luas dengan para pengusaha maupun politisi.

Pada akhir obrolan, Rickyanto juga menyampaikan jika dirinya masih punya obsesi besar untuk berkembang menjadi profesional yang memiliki kekuatan ekonomi mandiri supaya dapat lebih luas membuka lapangan kerja sambil mengembangkan program filantropi yang selama ini sudah dilakoni. (RZ)

















