Malang, Swa News– Sayang, bekas bangunan Bioskop Misbar Kelud tidak masuk struktur heritage Kota Malang. Padahal pada masanya, pusat pertunjukan film rakyat tersebut merupakan ikon masyarakat pinggiran kota.

Konon, Bioskop Misbar (gerimis bubar) Kelud, yang posisi bangunannya berada di antara Gedung SMA Panjura dan Mapolsek Klojen, berdiri sekitar tahun 1930-an dan tutup pada tahun 1995. Banyak yang mengisahkan jika masa keemasan Bioskop Misbar Kelud itu terjadi sekitar tahun 1970–1980.
Namun menurut Karjo, pria asal Jombang yang dulu pernah menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Malang, menuturkan bahwa pada awal 1990-an ia juga masih sempat beberapa kali menonton tayangan film laga nasional dan film India di bioskop tersebut.
“Saya kan masuk kuliah angkatan 1989, dan saat semester 1 hingga semester 4-an masih sering nonton di sana. Bahkan kalau tidak salah, setiap hari Rabu menayangkan film-film India,” terangnya sambil tertawa.
Baca Juga : Hotel Pelangi Malang Menjadi Percikan Simbol Harmonisasi Arsitektur Eropa dan Jawa
“Dulu sepanjang jalan mulai masuk Jalan Kelud itu berjajar pedagang kaki lima yang menjual kaset tape recorder. Saya masih ingat saat itu membludaknya lagu-lagu Malaysia, sehingga kanan kiri jalan memutar lagu-lagu tersebut. Yang paling populer ya lagu Isabella dari Amy Search, dan hampir setiap kios memutar lagu itu,” sambungnya.
Bioskop Misbar kelud Legenda Hiburan Rakyat
Bioskop Misbar Kelud ini dulunya menjadi primadona masyarakat kelas menengah pinggiran kota, mulai dari kawasan Sukun, Kacuk, Gadang, Mergan, Laseman, Gasek, dan wilayah lainnya. Daya tariknya karena masyarakat membutuhkan hiburan dan harga tiketnya murah.

Ketika itu, posisi tempat duduk penonton terbagi menjadi dua tipe, yaitu ekonomi dan VIP (balkon). Untuk kelas ekonomi, tempat duduk berada di bawah dengan menggunakan bangku biasa. Sedangkan VIP berada di balkon dengan kursi bersandar dan beratap, sehingga jika hujan penonton tetap aman dan tidak kehujanan.

“Jadi yang menarik itu, bagi penonton kelas ekonomi bisa membawa masuk kendaraan ke dalam area pinggir tempat duduk. Suasananya ramai layaknya pasar malam karena pedagang asongan bebas berjualan di dalam,” kenang Yanto.
Namun sayang, Bioskop Misbar Kelud kemudian resmi ditutup pada tahun 1995. Penutupan tersebut dipicu derasnya arus industri televisi swasta yang mulai memasuki Kota Malang, yang pada saat itu juga menayangkan berbagai film laga, percintaan, maupun film India.
Saat ini kondisi bekas bangunan Bioskop Kelud tersebut terabaikan dan tidak terawat lagi. Bahkan seolah tidak terlihat jika keberadaannya dulu memiliki kaitan dengan sejarah panjang perkembangan masyarakat dan Kota Malang.
Untuk menghadirkan kembali eksistensi peran sejarah Bioskop Kelud, dibutuhkan upaya rekonstruksi dengan merumuskan berbagai persoalan yang melingkupinya, serta diikuti kebijakan inklusif yang melibatkan berbagai pihak terkait. Dengan demikian, dapat tercapai kesepahaman bahwa bangunan Bioskop Kelud layak menjadi bagian dari cagar budaya Kota Malang. (SC).









